Sunday, May 10, 2015

HUKUM EMAS, PERAK DAN SUASA ( 2)

Suasa adalah bahan yang terbuat dari campuran emas dan perak serta tembaga,dengan kadar campuran Emas 20%  Perak 10% dan Tembaga 70%.

Hukum bagi penggunanya di tafshil
- Haram bagi laki-laki yang sudah tertaklif hukum syara' (baligh)
- Boleh (menurut qoul shohih) bagi anak laki-laki yang masih kecil (shobiy)

Memakai cincin suasa hukumnya haram begitu juga segala bentuk cincin yang dilapisi emas walaupun sedikit seperti penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim (شرح النووي على مسلم) berikut:

وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا : لو كانت سن الخاتم ذهبا ، أو كان مموها بذهب يسير ، فهو حرام لعموم الحديث الآخر في الحرير والذهب ( إن هذين حرام على ذكور أمتي حل لإناثها

Bagitu juga haram memakai cincin yang sebagian bahannya terbuat dari emas dan sebagiannya lagi dari perak. Kalangan ulama Syafi'i mengatakan: Apabila pada cincin terbuat dari emas, atau dilapisi dengan sedikit emas maka hukumnya haram karena keumuman hadits yang melarang pemakaian sutra dan emas.

Jika emas dipakai oleh anak kecil laki-laki,menurut qoul rojih hukumnya boleh ,Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu'

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﻓﻬﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻮﻟﻲ ﺇﻟﺒﺎﺳﻪ ﺍﻟﺤﺮﻳﺮ ﻓﻴﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻭﺟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻭﻏﻴﺮﻩ: ﺃﺣﺪﻫﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺇﻟﺒﺎﺳﻪ ﻭﺗﻤﻜﻴﻨﻪ ﻣﻨﻪ.. ﻭﺗﺠﺮﻱ ﺍﻷﻭﺟﻪ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻓﻲ ﺇﻟﺒﺎﺳﻬﻢ ﺣﻠﻲ ﺍﻟﺬﻫﺐ. ﻭﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﺟﻪ ﻓﺎﻟﺼﺤﻴﺢ ﺟﻮﺍﺯﻩ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﺑﻪ ﻗﻄﻊ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻹﺑﺎﻧﺔ، ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﺮﺭ

Artinya: Adapun anak kecil laki-laki apakah boleh bagi wali (orang tua)-nya untuk memakaikan baju terbuat dari sutra ada tiga pandangan dalam hal ini. Salah satunya adalah haram bagi orang tua anak untuk memakaikan baju sutra. Hukum yang sama berlaku juga dalam kasus wali memakaikan emas pada anak keci laki-laki.
Namun pendapat yang rajih (unggul) adalah boleh secara mutlak. Pendapat ini ditashih oleh Imam Rafi'i dalam Al- Muharrar.
Namun demikian,jika ada laki-laki dewasa memakai perhiasan dari emas seperti cincin dan terbawa sholat maka Pemakainya berdosa (haram),Namun shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.


Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm 1/111 mengatakan:

وكذلك أنهاهم عن لبس الذهب خواتيم وغير خواتيم ولو لبسوه فصلوا فيه كانوا مسيئين باللبس عاصين إن كانوا علموا بالنهي ولم يكن عليهم إعادة صلاة ; لأنه ليس من الأنجاس ألا ترى أن الأنجاس على الرجال والنساء سواء والنساء يصلين في الذهب .

Artinya: Begitu juga Nabi melarang umat Islam laki-laki memakai emas baik dalam bentuk cincin atau lainnya. Apabila muslim memakai emas lalu shalat maka mereka berbuat buruk dan maksiat apabila mereka tahu atas larangan itu tapi tidak perlu mengulangi shalatnya karena emas tidaklah najis. Tidakkah anda tahu bahwa najis bagi laki-laki dan perempuan itu sama sedangkan wanita shalat dengan memakai emas.




>>> Ibnu Al-Ihsany


Al-Baijuri juz 1, hal. 241-242

ـ{وقليل الذهب وكثيره} أي استعمالهما {في التحريم سواء

Penggunaan emas baik sedikit maupun banyak, sama dalam segi keharamannya

{قوله وقليل الذهب وكثيره}
هذا تعميم بعد تخصيص ، فإن قوله ؛ والتختم بالذهب ، خاص ، وهذا عام وقوله ؛ أي استعمالهما ، احتاج لتقدير ذلك لأن التحريم لا يتعلق بالذوات وإنما يتعلق بالأفعال ، وقوله ؛ في التحريم سواء ، أي مستويان في التحريم على الرجال إلا أنفا وأنملة وسنا كما مر ، ومحل في الأنملة ما لم تكن أنملة إبهام ، وخرج بالأنملة الأنملتان من أصبع واحدة بخلاف الأنملة الواحدة ولو من الأصابع الأربعة من كل يد وعلى النساء الإحليا على العادة ، والفضة كالذهب إلا خاتما ولو لرجل على العادة بخلاف الختم كما مر

* Yang ini tentang sutra

وإذا كان بعض الثوب إبريسما} أي حريرا {وبعضه} الآخر {قطنا أو كتنا} مثلا {جاز} للرجل {لبسه ما لم يكن الإبريسم غالبا} على غيره ، فإن كان غير الإبريسم غالبا حل ، وكذا إن استويا في الأصح


LINK ASAL
https://m.facebook.com/groups/196355227053960?view=permalink&id=711979462158198&p=0&refid=18

HUKUM PAKAI EMAS, PERAK DAN SUASA (1)

Agar jawaban ini lebih komprehesinf, maka diulas juga di sini hukum-hukum yang berkaitan dengan penggunaan emas, perak dan suasa baik bagi lak-laki, perempuan, dan anak kecil laki-laki. Khusus untuk Anda, jawabannya adalah haram memakai cincin suasa karena mengandung emas. Pemakainya berdosa. Namun, apabila dipakai shalat, shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi. Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm 1/111 mengatakan:


وكذلك أنهاهم عن لبس الذهب خواتيم وغير خواتيم ولو لبسوه فصلوا فيه كانوا مسيئين باللبس عاصين إن كانوا علموا بالنهي ولم يكن عليهم إعادة صلاة ; لأنه ليس من الأنجاس ألا ترى أن الأنجاس على الرجال والنساء سواء والنساء يصلين في الذهب .

Artinya: Begitu juga Nabi melarang umat Islam laki-laki memakai emas baik dalam bentuk cincin atau lainnya. Apabila muslim memakai emas lalu shalat maka mereka berbuat buruk dan maksiat apabila mereka tahu atas larangan itu tapi tidak perlu mengulangi shalatnya karena emas tidaklah najis. Tidakkah anda tahu bahwa najis bagi laki-laki dan perempuan itu sama sedangkan wanita shalat dengan memakai emas.


DALIL DASAR EMAS DAN PERAK

Haram dan halalnya emas dan perak adalah berdasar sejumlah hadits sahih antara lain dikutip di bawah:

1. Hadits sahih riwayat Muslim dari Barra' bin Azib
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بسبع ونهانا عن سبع أمرنا بعيادة المريض واتباع الجنازة وتشميت العاطس وإبرار القسم أو المقسم ونصر المظلوم وإجابة الداعي وإفشاء السلام ونهانا عن خواتيم أو عن تختم بالذهب وعن شرب بالفضة وعن المياثر وعن القسي وعن لبس الحرير والإستبرق والديباج

Arti ringkasan: Rasulullah memerintahkan kita untuk melakukan 7 (tujuh) perkara dan melarang 7 perkara. ... Nabi melarang kami memakai cincin emas, minum di wadah/bejana perak.

2. Hadits sahih riwayat Bukhari

الذهب والفضة والحرير والديباج هي لهم في الدنيا ولكم في الآخرة
Artinya: Emas, perak, sutera, adalah untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat.

3. Hadits sahih riwayat Tirmidzi dan Nasa'i

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لِإِنَاثِهَا

Artinya: Dua hal ini (emas dan sutra) adalah haram bagi laki-laki dan halal bagi perempuan.

4. Hadits sahih riwayat Muslim dari Anas

أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَم فِضَّة فِي يَمِينه

Artinya: Rasulullah memakai cincin dari perak di jari tangan kanannya.

5. Hadits sahih Bukhari Muslim
أنه صلى الله عليه وسلم اتخذ خاتماً من ورِق ( فضة)
Artinya: Bahwasanya Nabi memakai cincin dari perak.

HUKUM MEMAKAI EMAS BAGI WANITA

Perempuan boleh memakai memakai emas dan perak

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan:


وأما النساء فيباح لهن لبس الحرير وجميع أنواعه ، وخواتيم الذهب ، وسائر الحلي منه ، ومن الفضة ، سواء المزوجة ، وغيرها ، والشابة والعجوز والغنية والفقيرة
Arti ringkasasn: Perempuan boleh memakai cincin emas dan perak baik sudah menikah atau belum, masih muda atau sudah tua, kaya atau miskin.

Ibnu Abdil Barr mengatakan dalam Al-Istinkar

الإجماعَ على جوازِ التختمِ بالذهبِ للنساءِ ، وأنهُ يحرمُ على الرجالِ
Artinya: Ulama sepakat (ijmak) atas bolehnya wanita memakai cincin emas dan haram bagi laki-laki.

HUKUM MEMAKAI CINCIN EMAS BAGI LAKI-LAKI

Memakai cincin emas bagi laki-laki itu haram seperti dikatakan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim berikut:

وأما خاتم الذهب فهو حرام على الرجل بالإجماع ، ) .

Artinya: Adapun cincin emas itu haram bagi lak-laki menurut ijmak (kesepakatan ulama).

HUKUM MEMAKAI EMAS BAGI ANAK KECIL LAKI-LAKI

1. Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmuk:


فأما الصبي فهل يجوز للولي إلباسه الحرير فيه ثلاثة أوجه في البيان وغيره: أحدها يحرم على الولي إلباسه وتمكينه منه.. وتجري الأوجه الثلاثة في إلباسهم حلي الذهب.

واختلفوا في الراجح من الأوجه فالصحيح جوازه مطلقا وبه قطع صاحب الإبانة، وصححه الرافعي في المحرر

Artinya: Adapun anak kecil laki-laki apakah boleh bagi wali (orang tua)-nya untuk memakaikan baju terbuat dari sutra ada tiga pandangan dalam hal ini. Salah satunya adalah haram bagi orang tua anak untuk memakaikan baju sutra. Hukum yang sama berlaku juga dalam kasus wali memakaikan emas pada anak keci laki-laki.

Namun pendapat yang rajih (unggul) adalah boleh secara mutlak. Pendapat ini ditashih oleh Imam Rafi'i dalam Al-Muharrar.

HUKUM MEMAKAI PERAK BAGI LAKI-LAKI

Hukum memakai emas bagi laki-laki diperinci yaitu apakah dipakai untuk cincin atau selain cincin seperti untuk kalung atau gelang.


A. Hukum Memakai Perak Dipakai untuk Cincin

Sebagaimana tersebut dalam hadits di atas, memakai cincin perak hukumnya boleh. Kaerna Nabi juga memakainya. Adapun apakah di jari tangan kanan atau kiri itu sama-sama bolehnya. Namun ada pendapat yang mengatakan di jari kanan lebih baik.

B. Hukum Perak Dipakai untuk ٍKalung dan Gelang (Selain Cincin) Bagi Laki-laki

Madzhab Syafi'i: Imam Nawawi mengatakan dalam kitab Al-Majmuk:
قال أصحابنا: يجوز للرجل خاتم الفضة بالإجماع، وأما ما سواه من حلي الفضة كالسوار والمدملج والطوق ونحوها، فقطع الجمهور بتحريمها، وقال المتولي والغزالي في الفتاوى يجوز، لأنه لم يثبت في الفضة إلا تحريم الأواني، وتحريم التشبه بالنساء، والصحيح الأول لأن في هذا تشبهاً بالنساء وهو حرام
Arti ringkasan: Adapun memakai perak selain untuk cincin maka hukumnya haram menurut jumhur (mayoritas) ulama. Namun menurut Al-Mutawalli dan Al-Ghazali hukumnya boleh karena tidak ada hukum tetap dalam soal perak kecuali keharaman wadah (bejana/gelas/baki) dan haramnya serupa dengan perempuan. Pendapat yang sahih adalah yang pertama, yaitu haram, karena menyerupai perempuan.

HUKUM MEMAKAI SUASA

Suasa adalah bahan yang terbuat dari campuran emas dan perak. Memakai cincin suasa hukumnya haram begitu juga segala bentuk cincin yang dilapisi emas walaupun sedikit seperti penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim (شرح النووي على مسلم) berikut:



وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا : لو كانت سن الخاتم ذهبا ، أو كان مموها بذهب يسير ، فهو حرام لعموم الحديث الآخر في الحرير والذهب ( إن هذين حرام على ذكور أمتي حل لإناثها

Bagitu juga haram memakai cincin yang sebagian bahannya terbuat dari emas dan sebagiannya lagi dari perak. Kalangan ulama Syafi'i mengatakan: Apabila pada cincin terbuat dari emas, atau dilapisi dengan sedikit emas maka hukumnya haram karena keumuman hadits yang melarang pemakaian sutra dan emas.

Memakai cincin suasa hukumnya haram bagi laki-laki baik dipakai sehari-hari apalagi untuk shalat.

Pengenalan Ringkas Fiqh Enam


Wednesday, October 19, 2011

Pengenalan Ringkas Fiqh Enam

Pendahuluan

Fiqh bermakna kefahaman daripada perkataan dasarnya. Fiqh bermaksud mengetahui sesuati perkara, subjek, ilmu dan sebagainya dengan jalan yang lebih mendalam dan terperinci. Begitulah yang dimaksudkan apabila kita berbicara tentang fiqh ibadah, fiqh jenayah, fiqh mu'amalat dan lain-lain. Fiqh-fiqh yang disebutkan tadi merupakan antara fiqh asas yang menjadi dasar dan asas dalam perbincangan kehidupan seseorang muslim. Maka, jika mahu disandarkan fiqh ini kepada ilmu-ilmu lain, boleh jadi ia akan melahirkan fiqh perundangan, fiqh kejuruteraan, fiqh ekonomi, fiqh kenegaraan, fiqh perubatan, fiqh kemasyarakatan dan lain-lain.

 

Islam menjadikan cara hidup atau pegangan hidup seseorang manusia sentiasa bermakna dan menuju kebaikan. Kefahaman dan perincian (fiqh) dalam sesuatu perkara sangat diperlukan lebih-lebih lagi perubahan masa dan keadaan memerlukan penyesuaian setempat selari dengan kehendak syariat.

 

Berdasarkan situasi ini, masyarakat Islam semakin memerlukan kefahaman yang lebih mudah, menyeluruh dan saling kait-mengait antara satu isu dengan isu yang lain. Apabila berbicara tentang solat, ia pasti berkait dengan kebersihan dan tempat menunaikan solat. Berkait tentang kedudukan tempat solat (masjid) yang hendak dibina. Berkait dengan azan, iqamah dan bacaan quran. Penggunaan teknologi juga mengubah suasana, maka berkait pula dengan speaker masjid, sensitiviti masyarakat non-muslim. Bila berbicara tentang masjid secara khusus, ia melibatkan pula sebagai pusat ibadah, mengumpulkan masyarakat, penyebaran ilmu, pemusatan pentadbiran. Jika dalam perang, masjid dijadikan pula kawasan selamat untuk orang ramai dan ia perlu dipertahankan.

 

Apabila berbicara tentang politik Islam, ia berkait terus dengan sistem pemerintahan dan sistem kehidupan masyarakat. Malah hakikatnya ia berhubungan terus dengan hubungan antara Allah dan hamba-hambaNya. Apabila berbicara tentang hudud, ada yang memperlekeh akan kesyumulan dan kesesuaian hukum Islam dalam mentadbir dan mengurus manusia. Tidak seiring arus perdana, perundangan kolot dan jumud, perlu meraikan masyarakat yang majmuk dan sebagainya. Penyebaran dan penerangan susunatur ilmu-ilmu Islam perlu diperluas dan diperkukuh kepada masyarakat. Agar masyarakat faham akan tuntutan Islam yang sebenarnya. Bukan hanya melihat Islam dalam erti solat, penceraian, nikah, perwarisan dan kematian sahaja.

 

Fiqh enam bukanlah satu subjek baru dalam ilmu-ilmu Islam. Bukan satu bid'ah baru lebih-lebih lagi mazhab baru. Ia hanya merupakan suatu sinergi keilmuan atau sinergi fiqh Islami yang diadun bersama daripada pelbagai cabang fiqh yang disusun oleh cendiakawan Islam agar lebih mudah difahami. Istilah fiqh khamsah (lima) telah dirintis. Ia membicarakan suatu fiqh atau perbincangan terkini yang diperlukan masyarakat dalam konteks sesuai dengan tuntutan masa dan tempat. Fiqh lima sepertimana yang disusun oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi melibatkan:

1) Fiqh Maqasid (Fiqh Tujuan Syariat),

2) Fiqh Awlawiyat (Fiqh Keutamaan),

3) Fiqh Muwazanat (Fiqh Pertimbangan),

4) Fiqh Ikhtilaf (Fiqh Perbezaan) dan

Fiqh Sunan (Fiqh Tabiat Alam dan Sosial). Penulis memecahkan Fiqh Sunan kepada

5) Fiqh Waqi' (Fiqh Setempat atau Semasa) dan

6) Fiqh Taghyir (Fiqh Perubahan).

Maka kesemua fiqh tersebut menjadi enam dan kerana itulah diletakkan Fiqh Enam.

 

Siyasah Syar'iyyah

Perbicaraan kesemua fiqh ini adalah sebagai suatu landasan untuk mencapai makna politik Islam yang sebenar. Apabila kita berkata mengenai politik mengikut terjemahan Barat, lantas kita mendapati wujudnya pemisahan antara agama dan urusan kehidupan yang dikenali sebagai sekularisme. Wujudnya halangan agama mendasari sistem kehidupan manusia dan memencilkan istilah agama hanya dari sudut ibadah ritual semata.

 

Tetapi, apabila kita sebagai muslim mahu berbicara tentang politik Islam mahu atau tidak kita perlu melibatkannya dengan tuntutan dan kaedah yang telah syariat gariskan. Islam telah menjadikan tauhid dan iman sebagai asas dalam membuat penyelidikan dan membangunkan teori. Bukan menjadi seperti lembu dicucuk hidung, bernaung di bawah sistem jahiliyah dan mengikut sistem batil membabi buta.

 

Politik Islam atau siyasah syar'iyyah bermaksud ilmu pengurusan negara dan masyarakat serta hubungan antara negara - ia merupakan satu kefardhuan, mendirikannya dengan sistem khalifah Islam yang berlandaskan hukum Allah dan ianya menjadi pegangan pemerintah bagi umat atau masyarakat tersebut. Pemerintah tersebut menjadi ketua terhadap perkara-perkara dunia dan agama, mendirikan negara dengan memelihara agama serta mentadbir negara dengan agama. Ini kerana Islam merangkumi agama dan dunia. Siayasah syar'iyyah aplikasinya bertunjangkan sesuatu kebaikan yang tidak disebut di dalam Quran. Perkataan politik tidak disebut secara terus di dalam Quran, namun ia menaungi kebanyakan perlaksanaan hukum Islam itu sendiri.

 

Seorang pemikir Maghribi, Muhammad Abid Jabari ketika membicarakan dualisme antara agama dan negara, beliau berkata "Pada dasarnya jika hubungan tersebut dikembalikan kepada makna asal, dengan sendirinya akan mengarah pada Eropah sebagai negara pertama yang menginginkan dikotomi ini. Tetapi jika hubungan agama dan negara dikaitkan dengan tradisi keislaman klasik, maka usaha memisahkan agama dan negara dianggap sebagai rancangan memusuhi Islam atau usaha untuk melawan Islam secara terang-terangan."

 

Sejak awal penurunan risalah sehingga kelangsungan silih berganti khilafah Islam, Islam tidak pernah mengenal negara tanpa agama atau agama tanpa negara. Disebabkan cerminan negara pada hari ini adalah politik, iaitu aktiviti paling jelas yang mampu meletakkan Islam sebagai pemutus, pentadbir dan penghukum di dalam sesebuah negara mahupun muka bumi ini.

 

Dalam usaha merealisasikan politik Islam, keperluan seseorang muslim terhadap Fiqh Enam ini adalah dituntut. Agar persoalan dan perjalanan membawa hukum Tuhan ini berjalan dengan seadilnya di atas muka bumi. Mereka yang menjadi pentadbir atau pemerintah segala urusan manusia adalah mereka yang Allah teguhkan kedudukannya di dunia. Firman Allah SWt yang bermaksud "(Iaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan solat, meunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf fan menegah daripada perbuatan yang mungkar" (Surah al-Hajj:4)

 

Fiqh Maqasid (Fiqh Nusus)

Siyasah Syar'iyyah bukanlah satu percakapan atau omongan kosong yang tidak berpijak pada bumi yang nyata. Malah ia hakikatnya adalah gabungan daripada kefahaman syariat (Al-Quran, As-Sunnah, Ijma' dan Qias) dalam mentadbir urusan umat Islam khasnya dan bukan Islam amnya supaya sentiasa selari dengan tuntutan syariat Islam. Manhaj ini perlu diambil daripada perkara usul dan mengambil hukum-hukum dari sumbernya yang sebenar dengan menggunapakai faedah daripada fiqh klasik (turath) Islam.

 

Fiqh Nusus dalam perspektif Fiqh Maqasid membincangkan bagaimana meletakkan sesuatu hukum dengan kaedah dan tempat yang paling sesuai, merangkumi situasi semasa, perbezaan masa dan tempat, bertujuan mengambil kemaslahatan dan menolak sebarang mudharat. Di dalam perbincangan awal Fiqh Maqasid, 'ulama telah meletakkan apakah sumber pengambilan hukum yang mesti digunakan. Ia adalah:

1) Sumber yang disepakati oleh kesemua 'ulama Islam iaitu Al-Quran dan As-sunnah,

2) Sumber yang disepakati oleh jumhur 'ulama iaitu ijma' dan Qias, dan

3) Sumber yang diperselisih oleh para 'ulama.

 

Perkara yang diperbincangkan di dalam Fiqh Maqasid ialah ketetapan langkah yang perlu dilalui apabila seseorang mahu mengeluarkan hukum daripada ayat-ayat Al-Quran. Ia merangkumi:

1) Pemahaman mengenai ayat-ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat,

2) Kaedah pentakwilan ayat Al-Quran,

3) Kaedah meletakkan nas sesuai dan tepat pada tempatnya,

4) Pemahaman terhadap nasakh dan mansukh,

5) Penguasaan terhadap hadith Nabi SAW dan athar para sahabat, serta

6) Pegangan terhadap penafsiran Israiliyyat.

 

Manakala panduan dan ketetapan dalam memahami sunnah dan mengeluarkan hukum daripada sunnah Nabi SAW ialah:

1) Memahami sunnah dalam lingkungan Al-Quran,

2) Menghimpunkan hadith-hadoth dalam satu skop perbincangan,

3) Menghimpun dan menjelaskan di antara hadith yang berbeza,

4) Memahami hadith dalam lingkungan sebab-sebab dan tujuannya, dan

5) Membezakan antara laluan atau cara yang berubah dan tujuan yang tetap bagi sesuatu hadith.

 

Di dalam Fiqh Maqsid ini juga diterangkan keperluan memahami Maqasid Syariah. Maqasid Syariah bermakna tujuan atau maksud sesuatu hukum atau syariat itu ditetapkan, iaitu memberikan maslahah (kebaikan) terhadap kehidupan manusia. Ia mempunyai lima kepentingan atau pemeliharaan terhadap lima perkara iaitu:

1) Pemeliharaan agama,

2) Pemeliharaan nyawa,

3) Pemeliharaan akal,

4) Pemeliharaan keturunan, dan

5) Pemeliharaan harta.

 

Manakala peringkat maslahah pula ada tiga seperti yang disebutkan oleh Imam Al-ghazali dan Imam Asy-Syatibi iaitu

1) Dharuriyyat (sesuatu yang kita tidak berupaya untuk hidup kecuali dengan kewujudannya),

2) Hajiyyat (kehidupan tetap boleh diteruskan tanpa perkara tersebut tetapi akan mengalami kesukaran dan kesengsaraan),

3) Tahsiniyyat (sesuatu yang dipergunakan untuk menghias dan mencantikkan kehidupan juga seringkali disebut sebagai al-Kamaliyyat (penyempurna)).

 

Maka pertimbangan yang perlu dilakukan ialah mendahulukan dharuriyyat ke atas hajiyyat dan tahsiniyyat serta mendahulukan hajiyyat ke atas tahsiniyyat.

 

Contoh mudah, manusia memerlukan sebuah rumah yang boleh melindunginya daripada kepanasan, kesejukan, hujan, taufan, kejahatan haiwan mahupun manusia. Tanpa rumah kemungkinan seseorang itu menempah maut kerana tiada tempat perlindungan. Maka ia adalah dharuriyyat. Pintu, tingkap, bekalan air, elektrik, dapur, tandas, itu semua boleh dikatakan sebagai hajiyyat. Tanpa kesemua ini hidup seseorang akan mengalami kesukaran.

 

Zaman kini, handphone dan laptop boleh dikatakan hajiyyat sekiranya hidup seseorang sehariannya memerlukan kedua alat ini. Manakala tahsiniyyat seperti langsir, pasu bunga, televisyen, radio, astro, internet, karpet, hiasan dinding, handphone jenis i-Phone, i-Pad dan lain-lain. Namun, kadang-kadang perkara tahsiniyyat boleh berubah kepada hajiyyat, hajiyyat kepada dharuriyyat dan sebaliknya. Ia berubah mengikut keadaan, keperluan dan tempat.

 

Pemahaman sesuatu perkara tidak boleh hanya disandarkan kepada teori atau pecahan yang dibuat. Pemahman perlu dikaitkan dengan sejarah atau sirah para Nabi, sahabat dan para 'ulama. Ini kerana dengannya kita mampu menilai sejauh mana kesesuaian dan perlaksaan ini memenuhi kaedah dan tuntutan agama.

 

Fiqh Nusus merupakan kunci utama dalam memahami fiqh-fiqh yang lain. Setiap hukum yang disebutkan di dalam nas Al-Quran mahupun hadith terdiri daripada perkara yang berubah (mutaghaiyirat) dan tetap (thawabit). Manakala perkata ijtihadiyyah (ijtihad) atau khilafiyyah (perselisihan atau perbezaan) yang berlaku di kalangan 'ulama adalah hanya sekitar perkara-perkara mutaghaiyirat. Perbincangan fiqh lima atau fiqh enam ini banyak tertumpu pada maqasid syariah berdasarkan hubungan antara perkara yang tetap (thawabit) dan berubah (mutaghaiyirat).

 

Dalam memahami fiqh Nusus, kita perlu mengetahui bahawa setiap ayat (nas) Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW mempunyai maqasid syariah (tujuan syara'). Ia merangkumi lima pemeliharaan yang telah disebutkan di dalam perbincangan Fiqh Maqasid sebelum ini. Maqasid syariat juga dikenali dengan maslahah. 'Ulama telah membahagikan maslahah kepada tiga kategori iaitu:

1) Al-Maslahah al-Mu'tabarah iaitu maslahah yang yang diiktibar, seperti haram seseorang berjudi untuk menjaga hartanya,

2) Al-Maslahah al-Mulghah iaitu maslahah yang tidak dikira atau tidak diiktibar, seperti mengeluarkan lesen judi untuk mencari statistik pengamal judi,

3) Al-Maslahah al-Mursalah iaitu sesuatu kebaikan yang tidak disebut di dalam Al-Quran, seperti pembinaan balai bomba dan jabatan agama Islam mengeluarkan sijil nikah serta kewajipan memilikinya.

 

Maslahah yang diterima oleh syara' ada tiga iaitu:

1) Zat al-Maslahah iaitu maslahah yang disebut di dalam Al-Quran dan As-Sunnah seperti pengharaman babi,

2) Nau' al-Maslahah iaitu qias seperti haram dadah kerana memabukkan dan sekiranya dadah tidak memabukkan maka tidak haram,

3) Jins al-Maslahah iaitu Masalih al-Mursalah itu sendiri.

 

Manakala maslahah bagi sesuatu keadaan terbahagi kepada tiga iaitu, 1) Dharuriyyat, 2) Hajiyyat dan 3) Tahsiniyyat seperti yang telah diterangkan sebalum ini.

 

Kefahaman terhadap Fiqh Nusus juga memerlukan seseorang mengetahui pembahagian dalil-dalil Al-Quran mahupun hadith iaitu sama ada dalil tersebut bersifat qath'iyyah atau dzanniyyah. Dalil qath'ie iaitu dalil yang tidak mempunyai makna yang kedua padanya atau tiada pilihan makna yang lain. 'Ulama telah bersepakat berkenaan hukum yang ada pada dalil tersebut dan tidak berlaku sebarang perselisihan pendapat. Kebiasaan dalil ini melibatkan perkara usul dalam agama seperti orang lelaki dan perempuan yang mencuri perlu dipotong tangannya.

 

Dalil dzonni iaitu dalil yang mempunyai lafaz yang boleh diertikan dengan pelbagai makna. Pelbagai pandangan diberikan terhadap istilah dalil Dzonni ini. 'Ulama berselisih pendapat mengenai hukum yang terdapat dalam dalil tersebut sama ada bersifat takhsis (pengkhususan), atau taqyid (perkaitan), atau majaz (perlambangan) atau lain-lain. Contohnya perkataan 'quru'' di dalam ayat mengenai haid wanita. Adakah ia tiga kali suci atau tiga kali keluar haid?

 

Sebagaimana dalil qath'ie dan dzonni, maslahah juga terbahagi kepada maslahah qath'iyyah dan maslahah dzonniyyah. Maslahah qath'iyyah ialah kebaikan yang pasti akan berlaku seperti mengharamkan pusat pelacuran dan maslahah dzonniyyah ialah kebaikan yang tidak pasti sama ada ia akan berlaku ataupun tidak seperti mewujudkan sekolah mengandung.

 

Selian itu, kita perlu juga memahami situasi apabila berlaku pertembungan antara dalil (nas) dengan maslahah. Terdapat tiga syarat bagi sesuatu maslahah itu diterima oleh syara' iaitu:

1) Maslahah tersebut mestilah tidak bertembung atau bertentangan dengan dalil nas daripada Al-Quran, As-Sunnah atau Ijma' 'Ulama,

2) Maslahah tersebut mestilah bersifat hakiki atau realiti dan bukan bersifat wahamiyah atau keraguan,

3) Maslahah tersebut hendaklah bersifat umum atau melibatkan kebanyakan manusia. Bukannya berbentuk individu atau sekelompok kecil manusia sahaja.

 

Pertembungan antara dalil dan maslahah terbahagi kepada empat keadaan iaitu:

1) Apabila bertembung antara dalil dzonni dengan maslahah dzonni, maka perlu dilaksanakan dalil dzonni tersebut. Maslahah dalam keadaan ini tidak diterima oleh syara'.

2) Apabila bertembung dalil dzonni dengan maslahah qath'ie, maka perlu diutamakan maslahah tersebut. Ini kerana dalil tersebut yang bersifat dzonni dan lafaznya boleh diertikan dengan makna yang pelbagai. Hanya maslahah bentuk ini sahaja yang diterima syara' untuk diamalkan kerana bertembung dengan dalil yang bersifat dzonni.

3) Apabila bertembung antara dalil qath'ie dengan maslahah dzonni maka sudah tentu perlu mengamalkan dalil tersebut. Ini kerana maslahah tadi belum tentu boleh mendatangkan kebaikan jika diamalkan.

4) Pertembungan antara dalil qath'ie dengan maslahah qath'ie tidak akan berlaku sama sekali melainkan dalam keadaan dharurat sahaja. Maka dalam situasi ini, 'ulama bersepakat menggunakan kaedah 'Dharurat mengharuskan larangan'.

 

Fiqh Awlawiyat

Apa yang dimaksudkan dengan Fiqh Awlawiyat ialah meletakkan sesuatu pada kedudukannya dengan sewajarnya, sama ada dari segi hukum, nilai dan perlaksanaannya. Amalan yang mula-mula dikerjakan sewajarnya didahulukan berdasarkan penilaian syariat yang sahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu dan diterangi oleh akal.

 

Sehingga sesuatu yang tidak penting tidak didahulukan melebihi sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan melebihi sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak diterima (marjuh) tidak didahulukan melebihi sesuatu yaang diterima (rajih). Sesuatu yang sewajarnya didahulukan mesti didahulukan dan yang sewajarnya dikemudiankan mestilah dikemudiankan. Sesuatu yang kecil tidak perlu diperbesar-besarkan dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di tempatnya dengan seimbang dan tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

 

Jika kita kembali merujuk kepada lima maqasid syariat, kita akan mendapati bahawa agama termasuk di bawah perkara dharuriyyat berbanding yang lain. Walaubagaimanapun, dalam memberi pertimbangan terhadap pelbagai kepentingan tersebut kita mestilah menggunakan kaedah ini:

1) Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti berbanding kepentingan yang baru dikenalpasti kewujudannya atau masih diragukan,

2) Mendahulukan kepentingan yang besar berbanding kepentingan yang kecil,

3) Mendahulukan kepentingan masyarakat berbanding dengan kepentingan individu,

4) Mendahulukan kepentingan yang banyak berbanding kepentingan yang sedikit,

5) Mendahulukan kepentingan yang berterusan berbanding kepentingan yang sementara atau tidak sengaja,

6) Mendahulukan kepentingan utama dan asas berbanding kepentingan yang hanya bersifat rasmi dan tidak penting,

7) Mendahulukan kepentingan masa depan yang utama berbanding kepentingan semasa yang kurang utama.

 

Pada pertimbangan di antara sesuatu keburukan dan kemudharatan dengan keburukan dan kemudharatan yang lainnya, haruslah kita melihat tahap keburukan atau nilai bahaya yang terdapat dalam kemudharatan tersebut. Mudharat yang membahayakan harta tidak sama dengan mudharat yang membunuh jiwa. Serta mudharat terhadap harta dan nyawa tidak sama dengan mudharat terhadap agama atau akidah. Ini melambangkan bahawa setiap mudharat dan keburukan mempunyai tahap yang berbeza mengikut keadaan yang dikaikan dengannya.

 

Maka 'ulama telah menyusun kaedah yang perlu digunapakai dalam keadaan ini iaitu:

1) Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan,

2) Sesuatu bahaya atau mudharat seboleh-bolehnya wajar dihapuskan,

3) Sesutau bahaya tidak boleh dihapuskan dengan bahaya yang lebih besar,

4) Bahaya yang lebih ringan boleh dipilih berbanding bahaya lain yang lebih besar,

5) Bahaya boleh diambil hanya sekadar yang diperlukan,

6) Bahaya yang bersifat khusus boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang bersifat lebih meluas dan umum.

 

Apabila dalam keadaan sesuatu perkara wujud manfaat yang lebih besar disamping keburukan kecil, maka manfaat itu boleh dilaksanakan. Sedangkan keburukan kecil yang wujud padanya bolehlah diabaikan. Kaedah penting di dalam situasi ini ialah:

1) Menolak keburukan perlu didahulukan berbanding mengambil manfaat,

2) Keburukan atau mudharat yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar,

3) Keburukan yang bersifat sementara diampuni demi kemaslahatan yang sifatnya berterusan,

4) Kemaslahatan yang pasti tidak boleh ditinggalkan (ditolak) hanya kerana terdapat keburukan yang baru dijangka.

 

Cara untuk kita mengetahui sesuatu kemaslahatan adalah berdasarkan kemaslahatan yang perlu dipelihara iaitu yang melibatkan kepentingan dunia dan kepentingan akhirat, atau kedua-duanya sekaligus. Begitu juga dengan keburukan. Setiap kemaslahatan dan keburukan dapat dikesan melalui akal fikiran yang waras atau melalui ketetapan agama atau melalui kedua-duanya secara bersama.

 

Di dalam mengetahui perbincangan Fiqh Awlawiyat, buku penulisan Dr, Yusuf Al-Qardhawi merupakan salah satu rujukan terbaik. Di dalam buku tersebut, beliau telah menyusun perbincangan bab-bab yang berkaitan dengan Fiqh Awlawiyat ini. Antara tajuk yang ditulis ialah:

1) Mengutamakan kualiti berbanding kuantiti,

2) Keutamaan ilmu berbanding amalan,

3) Mengutamakan persoalan ringan dan mudah berbanding persoalan berat dan sulit,

4) Mengutamakan pekerjaan yang bermanfaat dan lebih lama manfaatnya dan kekal kesannya berbanding pekerjaan yang merugikan dan dan bersifat jangka pendek,

5) Mengutamakan perkara yang diperintahkan yang bersifat asas dan fardhu berbanding perkara ceraian atau cabang dan bersifat sunat atau nawafil,

6) Keutamaan terhadap perkara yang dilarang dan membezakan antara kekufuran, kemusyrikan dankemunafikan yang besar mahupun kecil,

7) Mengutamakan pembinaan individu sebelum pembinaan masyarakat seta keutamaan perjuangan pemikiran,

8) Mengutamakan maslahah umum atau masyarakat berbanding maslahah khusus atau individu.

 

Fiqh Awlawiyat merupakan subjek yang sangat sinonim dalam kehidupan seseorang muslim khususnya. Keutamaan perlu diberikan sesuai dengan tempatnya dan masa tersebut. Sebagai contoh, seseorang mahasiswa perlu tahu antara kepentingan menghadiri mesyuarat dengan menuntut ilmu. Jika kita pengarah di dalam masjlis tersebut, akibat ketiadaan kita maka mesyuarat tidak dapat dijalankan, maka perlulah menghadiri mesyuarat. Ini kerana ia melibatkan maslahah umum untuk mendapat kata majoriti mesyuarat berbanding maslahah individu iaitu menuntut ilmu.

 

Akan tetapi, hakikatnya ia tidak semudah itu untuk dibuat kata putus. Keutamaan menuntut ilmu bagi melaksanakan proses islah, ilmu yang dituntut dipergunakan untuk disampaikan kepada masyarakat, ia juga merupakan satu bentuk maslahah umum. Mungkin kehadiran ke mesyuarat cukup dengan wakil daripada timbalan. Inilah antara banyak situasi yang memerlukan kita menilai dengan neraca Islam apakah yang lebih diutamakan daripada yang lain. Ia sangat diperlukan oleh seorang isteri atau suami, bapa atau ibu, pemimpin, para pekerja, penuntut ilmu dan lain-lain.

 

Fiqh Ikhtilaf

Perbincangan Fiqh Ikhtilaf menjadi satu keperluan dalam kehidupan bermasyarakat pada hari ini. Di dalam keadaan hukum-hukum Islam semakin sukar untuk dimengerti akibat serangan pemikiran dan akhlak, dalam keadaan orang Islam yang penipu, korupsi dan pengkhianat, wujud pula golongan bukan Islam yang mahu bersama tunduk di bawah hukum Islam, dalam keadaan berbilangnya jemaah yang mendakwa mereka adalah jemaah yang terbaik membawa Islam, dalam keadaan persoalan ibadah dan hukum Islam dimainkan isunya dan dikaitkan dengan perkara-perkara lain seperti keperluan politik, ekonomi dan sosial, dalam keadaan umat Islam dahagakan kekuatan kesatuan dan perpaduan dalam menghadapi musuh akidah, zionis dan ideologi manusia, dalam keadaan umat Islam perlu terus bersedia dan mempertahankan syiar Islam yang tertinggi. Maka semua situasi ini memerlukan pertimbangan yang sebaiknya dalam berfikir dan mengetahui kefahaman yang betul untuk kita berbeza, berselisih dan bertentangan pendapat dengan orang atau pihak lain.

 

Kesatuan dan perpaduan sangat dititikberatkan di dalam Islam. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran memerintahkan umat Islam agar tidak berpecah belah. Selain itu, wujud juga ayat dan hadith yang menyeru umat Islam agar berhati-hati dengan sebarang anasir dan perlakuan yang boleh mengundang perpecahan dan kekifuran. Islam sangat membenci perpecahan dan hidup tanpa berjemaah atau bermasyarakat. Kehidupan seperti ini akan mendedahkan diri seseorang muslim jatuh ke kancah kerosakan dan kehancuran. Kesatuan sebenarnya mampu memperkuat antara satu sama yang lain atau yang lemah, serta menjadi benteng yang utuh dalam mengahadapi musuh. Maka, Perpecahan umat Islam bukanlah suatu kelaziman dan hadith mengenai berpecahnya umat Islam kepada 72 atau 73 golongan hendaklah dikoreksi semula.

 

Dr. Yusuf Al-Qardhawi di dalam bukunya yang berjudul As-Sohwah al-Islamiyah baina al-Ikhtilaf al-Masyru' wa al-Tafarruq al-Mazmum menjelaskan bahawa penyebab utama terjadinya iktilaf atau perpezaan pendapat adalah disebabkan akhlak dan pemikiran. Antara bentuk masalah akhlak yang menjadi punca perbezaan ialah membangga diri dan mengkagumi diri sendiri, buruk sangka dan mudah menuduh orang lain tanpa bukti, ego dan mengikut hawa nafsu akibat mengejar kepimpinan dan kedudukan, taasub kepada pendapat tertentu, mazhab dan golongan dan taasub negeri, jemaah, daerah, parti jemaah atau kepimpinan.

 

Manakala dalam bentuk pemikiran pula terbahagi kepada dua iaitu perbezaan penilaian oleh akal itu sendiri dan perbezaan fiqh. Perbezaan penialain termasuk penilaian terhadap sejarah, tokoh, isu atau peristiwa dan sebagainya. Perbezaan fiqh pula contoh yang terbaik ialah wujudnya empat mazhab fiqh yang didokongi oleh empat 'ulama besar Islam. Itu belum termasuk anak murid atau para guru mereka dan 'ulama lain yang telah sampai tahap boleh berijtihad.

 

Selepas menerangkan bahawa perbezaan ini merupakan fitrah bagi manusia, akhlak pertama yang perlu dipegang oleh seseorang muslim ialah mengambil jalan pertengahan dan tidak melampau dalam seseuatu perkara iaitu sentiasa bersikap wasatiah (bersederhana). Inilah juga manhaj yang dipegang di dalam pengajian Al-Azhar. Kedua, hendaklah mengutamakan ayat-ayat muhkamat dan bukan ayat mutasyabihat. Ini kerana, perlaksanaan hukum dan perintah daripada ayat-ayat yang telah jelas maknanya perlu lebih didahulukan berbanding mencari hukum dan natijah daripada perafsiran yang berbeza daripada ayat mutasyabihat. Ketiga, tidak memaksa dan menolak dalam masalah ijtihadiyah.

 

Sejarah membuktikan, situasi ini telahpun berlaku di era para sahabat Nabi SAW lagi dan tetap berlaku di zaman selepasnya. Keempat, hendaklah terlebih dahulu mengkaji perbezaan pendapat para 'ulama. Pada hari ini sedringkali wujud pelbagai pandangan trhadap sesuatu isu mahupun hukum sehinggakan pihak yang tidak berkelayakan berani memberikan pendapat, sedangkan permasalahan dan persoalan terhadap isu atau hukum tersebut telahpun ada jawapannya sejak dahulu lagi. Kembali kepada pendapat 'ulama besar Islam dan jumhur adalah jalan terbaik.

 

Kelima, membatasi pengertian dan istilah. Kepelbagaian pengertian dan istilah lebih-lebih lagi yang sengaja diwudjukan bagi mengelirukan masyarakat hendaklah dielakkan. Mengtahui permasalahan besar yang dihadapi umat serta bekerjasama terhadap perkara yang disepakai. Sebaiknya bagi seorang muslim mengetahui apakah permasalah besar yang melanda umat Islam. Selain daripada isu Palestin, isu serangan pemikiran ke atas umat Islam, isu masalah sosial umat Islam, isu penjajahan asing ke atas negara islam, isu-isu besar sesebuah negara, ini semua termasuk isu besar yang perlu kata sepakat untuk mengahadapinya.

 

Selain itu kita sepakat bahawa masalah sosial perlu dibanteras, kita bersepakat kemiskinan rakyat perlu diselesaikan, kita juga bersepakat bahawa ramai umat Islam masih tidak mengerjakan solat, tidak berpuasa di bulan Ramadhan, tidak menunaikan zakat. Kita juga bersepakat bahawa masih ramai masyarakat negara yang tidak pandai membaca Al-Quran, juga bersepakat Allah adalah Tuhan yang esa dan akidah umat Islam perlulah sentiasa diperkukuh. Kita juga perlu bersepakat bahawa dakwah kepada orang bukan Islam mengenai islam dan orang asli di kawasan pendalaman adalah kefardhuan terhadap semua pendakwah. Maka perkara yang disepakati ini perlulah kita bekerjasama. Sepatutnya tidak ada pihak yang terang-terangan tidak mahu bersatu dan lantas memncilkan diri dari bekerjasama serta memberi pelbagai alasan.

 

Antara asas moral yang perlu dipegang dengan kukuh dalam berbeza pendapat ialah:

1) Ikhlas dan membebaskan diri dari hawa nafsu. Seringkali kita melihat perbezaan pendapat yang zahirnya kelihatan ilmiah hakikatnya didasari oleh keegoan dan menurut menurut hawa nafsu. Akibatnya, kebiasaan perbezaan ini terjadi kerana faktor peribadi dan mahu mencari populariti. Ia diselaputi kononnya kerana kepentingan Islam atau jemaah atau golongan tertentu dan sebagainya yang tidak diketahui oleh orang lain.

 

Banyak perselisihan berlaku hanya kerana seseorang diangkat menjadi pemimpin. Kemudian pengikut masing-masing menganggap ianya sebagai perselisihan mmengenai prinsip dan dan pemahaman. Padahal sebenarnya ia merupakan perselisihan untuk merebut kepimpinan, pangkat ataupun harta. Ada hadith nabi SAW yang kefahamannya menyebutkan bahawa keinginan seseorang terhadap harta dan kuasa itu bahayanta terhadap agama lebih besar jika dibandingkan dengan bahaya serigala lapas yang dilepaskan di tengah kawanan kambing.

 

2) Meninggalkan taasub terhadap individu, mazhab dan golongan. Seseorang harus melepaskan dirinya daripada taasub terhadap pendapatnya sendiri. Ini kerana orang yang tidak dapat melepaskan dirinya daripada daripada sikap ini akan sentiasa mempertahankan pendapatnya sendiri walaupun ia tahu pendapatnya salah dan lemah penjelasannya. Ia hanya memenangkan kehendak hawa nafsu, memandang rendah pendapat orang lain takut dituduh kurang fahamannya. Semoga Allah meredhai Imam Syafie yang berkata "Demi Allah! Aku tidak peduli apakah kebenaran itu nampak melalui lidahku atau melalui lidah orang lain." Taasub ini termasuk salah satu petunjuk seseorang kagum terhadap dirinya sendiri dan mengikut hawa nafsu. Sedangkan kedua-dua sikap ini termasuk 'penghancur' yang paling merbahaya. Andai taasub terhadap diri sendiri pun dilarang, lebih-lebih lagilah taasub terhadap sesuatu mazhab dan golongan.

 

Di antara akhlak untuk mengelak sikap taasub ini ialah dengan melihat kepada perkataan dan bukan kepada orang yang mengatakannya. setiap individu perlu mempunyai keberanian untuk mengkritik diri sendiri, mengakui kesalahan dan kesilapan, menerima dengan lapang dada kritikan orang lain, tidak segan meminta pendapat dan penilain daripada orang lain, memanfaatkan ilmu dan hikmah yang dimiliki orang lain, memuji orang yang tidak sependapat dengannya jika memang pendapatnya benat dan baik, serta membelanya apabila dia dituduh dengan tuduhan yang batil atau dipersendakan.

 

3) Berprasangka baik terhadap orang lain,

4) Tidak menyakiti dan mencela,

5) Menjauhi bantahan dan permusuhan, dan

6) Dialog dengan cara yang paling baik.

 

Fiqh Muwazanah

Fiqh Pertimbangan di sini ialah bagaimana membuat pertimbangan antara kebaikan (maslahah) dan mafsadah (keburukan). Sebelum kita mengetahui mana satu maslahah dan mana satu mafsadah, terlebih dahulu kita perlu mengetahui ciri-ciri yang ada di dalam kedua perkara tersebut. Maka ilmu yang diperlukan ialah Fiqh Maqasid Syariah, Fiqh Awlawiyat dan Fiqh Waqi'. Apabila kita mengetahui dan mendalami perbincangan ketiga-tiga fiqh ini seterusnya kita mampu membuat pertimbangan sewajarnya bagi melaksanakan perubahan (taghyir) atau proses pembaikan (islah).

 

Ruang lingkup perbahasan Fiqh Muwazanat merangkumi:

1) Keseimbangan sesama kebaikan (maslahah) antara satu maslahah dengan maslahah yang lain. Ia berlaku dari segi bentuknya, keluasannya, kedalamannya, kesannya, keberkekalannya dan kebersinambungannya. Daripada kesemua segi atau ciri ini, perlulah diketahui mana satukah yang perlu didahulukan dan diambil kira dan mana satukah yang boleh digugurkan dan diketepikan.

2) Keseimbangan sesama keburukan (mafsadah) antara satu mafsadah dengan mafsadah yang lain sepertimana dalam segi atau ciri yang disebutkan sebelum ini. Perlu diketahui mana satu yang perlu diketepikan atau dilewatkan dan mana satu yang perlu didahulukan atau diutamakan.

3) Keseimbangan antara maslahah dan mafsadah apabila kedua ciri ini saling bertembung antara satu sama lain. Di dalam keadaan ini kita perlu mengetahui bilakah masa yang sesuai mendahulukan 'membendung kerosakan' dari 'mengutamakan kebaikan' dan bilakah masa yang sesuai mendahulukan 'mengutamakan kebaikan' dari 'membendung kerosakan'.

 

Antara persoalan yang memerlukan kepada kefahaman pertimbangan ialah:

1) Adakah bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan yang bukan Islam boleh diterima?,

2) Adakah boleh melakukan perdamaian dan kerjasama dengan kerajaan yang tidak beriltizam dengan hukum-hukum Islam?,

3) Adakah boleh melibatkan diri dengan pemerintahan yang tidak Islamik sepenuhnya? Serta terkandung di dalamnya perlembagaan dan undang-undang yang sama sekali tidak diterima Islam?,

4) Apakah kita boleh bekerjasa dengan golongan bukan Islam dalam melaksanakan hukum Allah dan melakukan proses kebaikan?,

5) Apakah boleh kita terus berurusan dengan sistem ekonomi riba' dan kovensional sedangkan ekonomi Islam masih tidak mampu menguasai lapangan?

 

Di dalam Al-Quran juga ada menceritakan beberapa situasi yang memerlukan pertimbangan. Antaranya kisah Nabi Harun AS dengan Nabi Musa AS mengenai pertimbangan antara maslahah di dalam Surah Taahaa ayat 94, kisah Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS mengenai pertimbangan antara mudharat di dalam Surah Al-Kahfi ayat 79, dan kisah pengharaman arak mengenai pertimbangan antara maslahah dan mudharat di dalam Surah al-Anfaal ayat 67. Selain itu kisah pertimbangan terhadap bangsa Rom dan bangsa Parsi. Kedua-dua bangsa ini memusuhi Islam. Kegembiraan ditujukan kepada bangsa Rom kerana mereka merupakan ahli kitab sedangkan bangasa Pasri adalah beragama majusi. Ia dimuatkan di dalam Surah al-Ruum ayat 2 sehingga 5.

 

Contoh pertimbangan lain ialah apabila Saidina Umar telah menukar panglima perang daripada Khalid bin Al-Walid kepada Abu Ubaidah Al-Jarrah apabila melihat seolah-olah perajurit ketika itu berkeyakinan menang disebabkan kehebatan peribadi Khalid sebagai panglima perang dan bukannya keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Selain itu kisah Saidina Umar ingin memilih seorang pemimpin untuk urusan umat Islam. Diceriatan oleh Al-Hakim daripada Asy-Sya'biy bahawa Umar telah berkata "Tunjukkan kepadaku seseorang yang aku dapat tugaskan untuk mengurus salah satu urusan kaum muslimin". Mereka menjawab "Abdul rahman bin 'Auf". Umar berkata "Dia seorang yang lemah". Mereka berkata lagi "Si Pulan". Umar menjawab "Dia tidak memiliki (kemampuan) yang saya perlukan". Mereka bertanya "Siapa yang engku inginkan?" Umar menjawab "Seseorang yang jika dia menjadi pemimpin mereka, dia seolah-olah salah seorang daripada mereka dan jika ia bukan pemimpin mereka seolah-olah dia bagaikan pemimpin mereka". Mereka berkata "Kami kenal hanyalah Ar-rabi' bin Ziyad al-Haritsiy". Umar berkata "Kalian benar".

 

Setiap daripada khalifah rasyidah yang empat juga pada era kepimpinan mereka jelas beberapa langkah melambangkan pemahaman mereka terhadap konsep fiqh pertimbangan ini. Saidina Abu bakar telah memerintahkan untuk memerangi golongan murtad dan golongan tidak membayar zakat. Saidina Umaar telah memeintahkan agar Al-Quran dikumpulkan daripada setiap penghafal dan penulis Al-Quran. Saidina Uthamn telah memerintahkan agar Al-Quran hanya dikumpulkan melalui satu tulisan sahaja iaitu Rasm Uthmani dan selainnya dibakar agar wujud keselarian keseluruhan penulisan Al-Quran.

 

Contoh lain yang kita boleh ambil adalah daripada profesyen kedoktoran. Para doktor dalam tugasan mereka akan membendung salah satu daripada dua jenis penyakit yang besar mudharatnya dengan melakukan kemudharatan yang lebih kecil. Mereka akan berusaha menghasilkan tahap keselamatan dan kesihatan yang paling tinggi dan tidak mempedulikan luputnya kemaslahatan yang rendah dan kecil. Kedoktoran juga seperti syariat, diwujudkan bagi mengutamakan kemaslahatan dan keselamatan serta membendung kemudharatan penyakit. Doktor akan berusaha membendung perkara tersebut mengikut apa yang termampu dilakukan olehnya dan berusaha mengutamakan maslahah juga mengikut apa yang termampu dilakukan. Pastinya seorang doktor tidak mampu membendung atau mengelak semua kemudharatan atau menghasilkan semua kemaslahatan. Apabila bertembung antara dua maslahah maka doktor boleh membuat pilihan untuk memilih antara dua maslahah, atau memilih salah satu mudharat apabila bertembung dua mudharat. Tetapi apabila bertembung antara maslahat atau mudharat, maka mereka akan memilih mana yang lebih kuat. Mereka akan mengambil sikap menangguhkan terlebih dahulu membuat keputusan jika ia tidak tahu mana satu aspek yang perlu diutamakan.

 

Maka Allah yang menggubal syariat juga adalah Tuhan yang menggubal hal berkaitan kesihatan dan seterusnya kedoktoran. Sama ada mengenai syariat atau mengenai kedoktoran, masing-masing mempunyai agenda dalam menguatamakan kemaslahatan dan membendung kemudharatan.

 

Fiqh Waqi'

Fiqh Waqi' merupakan satu ilmu yang mengkaji tentang pemahaman keadaan semasa daripada ciri-ciri yang memberi kesan kepada masyarakat, memberi kekuatan yang menguasai kenegaraan, memberi kekuatan pemikiran untuk berhadapan dengan apa jua serangan yang boleh merosakkan akidah umat Islam serta memberikan jalan-jalan atau perancangan untuk memelihara dan meninggikan nilai agama dan umatnya pada zaman ini dan akan datang. Sesungguhnya daripada hukum-hukum ijtihadiyah, sumber dan sandarannya untuk kemaslahatan akan berubah dengan berubahnya zaman dan keadaan. Maka hukum-hukum akan turut berubah.

 

Contoh yang paling mudah ialah apabila wujudnya fatwa lama dan fatwa baru di dalam permasalahn hukum di sisi Imam Asy-Syafi'e. Fatwa lama adalah ketika beliau berada di basrah dan fatwa baru ketika beliah berada di Mesir. Fatwa darinya berubah mengikut perubahan dan masa ketika fatwa tersebut dikeluarkan unruk pegangan masyarakat. Kaedah fiqh ada menyebutkan "Tidak menolak perubahan hukum-hukum ijtihadiyah dengan berubahnya masa, tempat, keadaan dan adat."

 

Seringkali Fiqh Waqi' melibatkan empat elemen utama yang mesti dipegang dan dijadikan kayu pengukur dalam perlaksanaan Fiqh Waqi'. Empat elemen tersebut ialah Keadaan, tempat, masa dan golongan sasaran. Sumber-sumber mengnai Fiqh Waqi' ialah Al-Quran, As-Sunnah dan Sirah Nabawi serta amalan salafus soleh. Contoh daripada Al-Quran ialah ingatan daripada Allah SWT bahawa orang Nasrani dan Yahudi akan emnggunakan apa jua cara untuk menghancurkan Islam di dalam Surah al-An'aam ayat 55. Contoh daripada sirah Nabi SAW ialah apabila Nabi memilih Habsyah sebagai tempat pertama penghijrahan umat Islam. Ini kerana Nabi SAW ada bersabda bahawa raja Habsyah pada ketika itu bukanlah seseorang yang zalim dan melakukan kezaliman. Akhirnya raja tersebut menerima rombongan hijrah umat Islam dengan pebuh kebaikan dan kemuliaan.

 

Ketika Nabi SAW ingin mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman, maka Baginda bertanya kepada Muaz dengan apakah dia akan berpegang untuk mengeluarkan hukum kepada umat Islam. Maka Muaz menjawab akan berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah dan seterusnya ijtihadnya. Maka Nabi SAW membenarkan kata-kata Muaz. Perkara ijtihad adalah diperlukan akan hukum yang dikeluarkan bersesuaian dengan keadaan masyarakat di sana.

 

Ciri-ciri yang perlu ada bagi seseorang sebelum mengeluarkan sesuatu hukum atau tindakan berdasarkan Fiqh Waqi' ialah:

1) Bersifat qana'ah serta memahami tentang kepentingannya,

2) Berpandukan sumber syara' kerana tidak sepatutnya sesuatu hukum dikeluarkan disebabkan pengaruh kebendaan. Perlulah menganalisis segala peristiwa serta membuat keputusan yang jauh daripada membawa persoalan yang berkaitan akidah dan hukum syara' yang pasti,

3) Memiliki keluasan dan kepelbagaian ilmu yang merangkumi ilmu syara', ilmu sosial atau kemasyarakatan (sains sosial), sejarah dan isu-isu semasa. Lebih banyak ilmu yang dikuasai, lebih pelbagai ilmu yang diketahui, lebih banyak pengalaman dan lebih meluas pengtahuan tentang isu semasa, semakin ia menguatkan keputusan mengeluarkan hukum melalui Fiqh Waqi'.

4) Berterusan mengkaji dan memperbaharui segala peristiwa yang baru,

5) Hidup dan sensitif dengan keadaan semasa sekeliling,

6) Berhikmah dalam memilih sumber yang pelbagai supaya mencakupi setiap perkara, serta memadai perkara terbaik daripada yang baik atau paling penting dari yang penting,

7) Perlaksanaan Fiqh Waqi' yang berperingkat.

 

Apa yang dimaksudkan dengan perlaksanaan yang berperingkat ialah dalam mencapai hakikat waqi'i (bersifat semasa), tiga tahap asas perlu dilalui. Tahap tersebut ialah:

1) Himpunan berita dan maklumat,

2) Perbandingan dan hubungkait antara peristiwa,

3) Menganalisa segala maklumat dan memperoleh segala keputusannya. Ditambah lagi ketiga-tiga tahap ini memerlukan kebolehan dan usaha yang bersungguh.

 

Contoh realiti adalah seperti manhaj dakwah yang bersesuaian terhadap golongan sasar (golongan dakwah) yang pelbagai. Ceramah agama atau perbincangan agama kepada orang kampung berbeza denagn orang bandar atau intelek. Berdakwah kepada golongan rempit, jalanan, dan bermasalah sosial berbeza dengan dakwah kepada golongan berkeluarga dan golongan elit. Berdakwah dan menyeru kepada orang yang sakit dan terlantar di hospital berbeza berdakwah kepada orang yang sihat, begitu juga berbeza kepada golongan yang tua dan berumur berbanding golongan pelajar atau mahasiswa.

 

Berdakwah kepada orang asli tidak boleh dengan cara erah agama selama sejam, menadah kitab dan menulis nota. Tidak boleh menggunakan bahasa yang tinggi dan terlalu rasmi. Mereka perlu didekati dengan jamuan makan, kemudian pemberian sumbangan atau hadiah. Selain itu perlu diadakan sukaneka atau perlawanan bola antara mereka. Antara lain mereka boleh didekati dengan hiburan, nyanyian, dan persembahan. Fiqh Waqi' sangat diperlukan bagi memastikan dakwah yang berkesan dan kelangsungan golongan sasar terus tetap bersama pendakwah dan dakwah yang disampaikan kepada mereka,

 

Fiqh Taghyir

Di antara keinsimewaan dakwah atau manhaj Islam adalah bersifat mengubah atau taghyir. Islam menolak bentuk penempelan atau penerapan nilai Islam yang bersifat topengan atau kulit luar tanpa perlaksaan syariat dan hukum Islam yang menyeluruh. Fiqh taghyir sangat diperlukan di dalam Islam ialah untuk memastikah hakimuatullah (perlaksanaan hukum dan undang-undang Allah) tertegak di atas muka bumi. Ini kerana perlaksanaan ini telah tertangguh akibat penguasaan dan cengkaman sistem dan perundangan ciptaam manusia. Setelah menggunapakai sinergi fiqh ini bermula Fiqh Maqasid sehinggalah Fiqh Waqi', maka peringkat Fiqh Taghyir adalah peringkat tertinggi. Taghyir daripada sudut bahasa ialah perpindahan daripada satu tempat ke tempat yang lain atau daripada satu keadaan kepada keadaan lain yang lebih baik. Tanghyir yang dimaksudkan secara menyeluruh ialah mengubah sistem perhambaan sesama manusia kepada perhambaan kepada Allah, daripada sistem dan perundangan manusia kepada hukum dan syariat Allah SWT, daripada kebobrokan jahiliyah kepada kecantikan dan ketinggian Islam.

 

Bagi melakukan perubahan seseorang muslim hendaklah berpegang kepada beberapa prinsip asas iaitu:

1) Dia hendaklah melihat sistem jahiliyah adalah sistem yang perlu diperangai kerana ia adalah sistem yang bermusuh dan bertentangan dengan Islam,

2) Berpegang bahawa sistem jahiliyah adalah sistem yang menolak syariat,

3) Di dalam hatinya dia hendaklah sama sekali tidak memberikan wala' kepada sistem jahiliyah tersebut. Al-Quran ada menjelaskan tuntutan melakukan perubahan sepertimana yang diterangkan di dalam Surah al-Ra'du ayat 11 dan di dalam Surah al-Anfaal.

 

Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi, ayat 11 daripada Surah al-Ra'du merupakan satu penjelasan terhadap kaedah yang ditetapkan di dalam Islam dalam melakukan perubahan sehingga ia dijadikan syiar atau pegangan di dalam gerakan pembaikan (islah). Kata-kata 'ulama yang menjelaskan hendaklah seseorang mendirikan Islam di dalam dirinya terlebih dahulu dan barulah Islam tertegak di bumi menggambarkan individu perlu berusaha mengubah dirinya kepada yang lebih baik. perlu melakukan proses pembaikan dari dalam dirinya terlebih dahulu. Ini juga bersesuaian dengan turutam amal (tujuh perkara) yang mana bermula dengan peribadi muslim. Barulah diikuti dengan rumahtangga muslim, masyarakat muslim dan seterusnya sehingga tertegak kalimah Allah di muka bumi.

 

Cara berdakwah Nabi SAW kepada golongan Arab Mekah dan Madinah sehingga bertukarnya kehidupan jahiliyah kepada kehidupan Islam merupakan contoh terbaik Fiqh Taghyir dalam lapangan realiti. Melalui senergi fiqh-fiqh ini, melalui petunjuk Allah SWT, dakwah Nabi SAW melalui peringkat yang sangat cemerlang. Dakwah yang berperingkat, bermula kerabat terdekat, kemudian sahabat handai, dilaksanakan secara sulit selama tiga tahun, menanamkan kekuatan akidah terlebih dahulu di Mekah selama sepuluh tahun. Disusuli dakwah di madinah selama sepuluh tahun lagi dengan pembinaan negara Islam yang pertama. Method perubahan ini sangat bersistem dan terancang yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah SWT.

 

Perubahan yang hendak dilakukan tidak boleh dilakukan dengan sambil lewa dan hangat-hangat tahi ayat. Tidak boleh dilakukan dalam bentuk tempelan atau topengan Islam sahaja tetapi hakikat isinya adalah jahiliyah. Bagi membasmi lalang yang berterusn tumbuh di satu kawasan lapang tidak boleh hanya dengan mencantas hujung atau di pertengahan lalang. Ia perlu dibuang bersama-sama akarnya. Begitu juga sistem jahiliyah atau peraturan buatan manusia. Projek-projek tempelan Islam tidak akan mberjaya mengangkat Islam di tempat yang tertinggi melainkan sistem perlu diubah. bagi mengubah sistem, pemimpin perlu diubah. Bagi melahirkan pemimpin dan kepimpinan yang mampu mengubah hendaklah dimulakan dari dalam diri setiap muslim. Perlu ada perancangan dan perlaksanaan yang teratur.

 

Peringkat perubahan yang disebutkan oleh Imam Hassan Al-Banna dan Imam Syed Qutb ialah:

1) Menerangkan generasi sahabat RA adalah generasi Al-Quran yang unik. Mereka diibaratkan seperti Al-Quran yang berjalan di atas muka bumi. Di antara ciri-ciri para sahabat sehingga mampu membawa ke tempat yang tertinggi di dalam diri mereka dan sistem kehidupan masyarakat mereka ialah menjauhi jahiliyah.

 

2) Penumpuan terhadap 'kebaikan terbesar' dan 'kemungkaran terbesar'. kebaikan terbesar dan teragung ialah mempertuhankan allah di atas muka bumi ini dengan memberikan hak hakimiyah Allah SWT. Manakala mungkar terbesar ialah pencerobohan terhadap hakimiyah Allah SWT dan emnggantikan dengan sistem buatan manusia. Peringkat yang kedua ini memberi peringatan kepada para pendakwah dan pendukung gerakan Islam agar tidak hanya menumpukan usaha untuk mengubah kemungkaran yang berbentuk cadang, pecahan atau sebahagian sahaja. Akan tetapi perlu juga memberi penumpuan terhadap keadaan mendirikan kerajaan Islam sepenuhnya dari segi sistem, perundangan, kehakiman, ketenteraan, ekonomi, sistem sosial, perlembagaan dan selainnya.

 

3) Para 'ulama telah mengaitkan perubahan ini dengan fungsi dan tanggungjawab yang perlu diberikan oleh golongan pemuda (syabab atau rijal). Melalui sirah Nabi SAW, kita akan melihat bahawa golongan yang mempelopori kebangkitan Islam adalah golongan pemuda disebabkan kelebihan semangat, idelisme, kefahaman dan kekuatan jasad yang ada pada mereka. Dari itu, lahirlah istilah rijal taghyir atau pemuda perubah yang diperlukan oleh Islam.

 

Bagi menangani gejala sosial, kecetekan ilmu-ilmu Islam di kalangan anak-anak sekolah atau golongan muda-mudi, sistem ekonomi yang tidak membantu secara menyeluruh untuk membasmi kemiskinan, sistem pendidikan yang tidak mampu melahirkan modal insan yang berkualiti bukan sahaja hebat dalam bidang akademik dan profesional, tetapi juga tinggi peribadi muslimnya. Tidak melakukan suapan, khianat, penipuan, penyelewengann dan pelanggaran etika. Sistem masyarakat yang semakin berbentuk individualistik, masing-masing menumpukan kehidupan sendiri sehingga tidak mengambil endah keadaan jiran tetangga. Tidak melaksanakan solat berjemaah di surau dan masjid. Tidak menghadiri kuliah-kuliah dan pengajian agama. Keluar rumah untuk pergi kerja dan balik rumah untuk berehat. Aktiviti bersama masyarakat setempat kurang dilaksakan dalam berntuk bersama.

 

Penutup

Inilah serba ringkas penerangan atau pencerahan mengenai Fiqh Enam yang amat diperlukan bagi memastikan Islam dikembalikan kedudukannya memimpin kehidupan manusia keseluruhannya. Islam tidak memerlukan kita, tetapi kita yang memerlukan Islam sebagai bekalan menuju akhirat kelak. Peranan mengembalikan Islam perlulah diletakkan di atas pundak setiap individu muslim tanpa kecuali. Semua muslim perlu sedar dan berperanan melalui platform yang sedia ada di hadapan mereka. Alasan untuk culas dan mengelakkan diri dari meninggikan kalimah 'Tiada Tuhan yang disembah selain Allah dan Nabi Muhamma SAW adalah pesuruh Allah' bakal mengundang kerosakan diri sendiri dunia ini malah akan menerima balasan yang buruk di akhirat kelak.

 

Bagaimana mungkin kita bakal memperoleh syafaat daripada Nabi SAW sekiranya dakwah baginda tidak kita teruskan. Bagaimana kita boleh memperoleh syurga milik Allah SWT sekiranya kita bersikap lepas tangan daripada meninggikan kalimahNya? Semoga Allah membuka hati-hati kita dan memberi hidayah di alam hidup kita agar berterusan kaki kita melangkah di atas jalanNya yang lurus.

 

Mari kita berdoa kepada para sahabat, tabi'in dan seterusnya serta semua 'ulama Islam yang terdahulu dan terkemudian yang telah mewarisi ilmu dan petunjuk daripada Rasulullah SAW. Semoga kebaikan terhadap mereka terus berkekalan sehingga kiamat datang dan kita ditempatkan bersama mereka di akhirat kelak.

 

Allahumma solli wa sallim wa barik 'alaihi wa 'ala aalih.

 

Semoga bermanfaat.

 

Alhamdulillah selesai penyusunan dan pengolahan.

ARWP, Hayyu Sabi', Kaherah.

20 Dzulqa'idah 1432 H.

Posted by al-hakim http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gifhttp://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif

Labels: Agama