Thursday, March 5, 2015

ADAB MEMINTA HUJAN (ISTISQA')



 


 


ADAB MEMINTA HUJAN (ISTISQA')


﴿ آداب الاستسقاء ﴾


]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي


 


 


Penyusun : Majid bin Su'ud al-‘Ausyan


 


 


 


 


Terjemah : Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc.


Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad


 


 


2009 - 1430




 


 


 


 


 


 


 


﴿ آداب الاستسقاء


« باللغة الإندونيسية »


 


 




 


 


ترجمة: مظفر شهيد محصون


مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو


 


 


 


2009 - 1430




 


 


 


 


 


ADAB MEMINTA HUJAN (ISTISQA')


  • Jika air hujan dari langit tertahan, musim peceklik kian panjang, maka laksanakanlah shalat istisqa'.
  • Sang imam mengajak kaum muslimin untuk berpuasa dan bershadaqah sebelum keluar untuk melaksanakan shalat Istisqa.
  • Menentukan waktu keluar berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW :
    .... وَوَعَدَ النَّاسَ يَخْرُجُوْنَ فَِيْهِ..
    "Dan (beliau) menentukan hari keluar mereka (untuk melaksanakan shalat istisqo'". [1]


  • Waktu keluar untuk shalat istisqa ialah:
     
    .....فَخَرَجَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ بَدَأَ حَاجِبُ الشَّمْسِ
          “Maka keluarlah Rasulullah SAW ketika matahari mulai bersinar”. [2]
  • Keluar untuk shalat istisqa dengan penuh pengorbanan, merendahkan diri, khusyu dan perlahan-lahan. Umar RA berdoa: 'Ya Allah!. Ampunilah kami sesungguhnya Engkau Maha Pengampun' sampai datang ke tempat shalat.
  • Perempuan, anak-anak keluar untuk melaksanakan shalat istisqa.
  • Keluar menuju tempat shalat:
     
    أَنَّ النَّبَيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إَِلَى اْلُمصَلىَّ فَاسْتَسْقَى...
          “Sesungguhnya Nabi SAW keluar menuju mushala kemudian shalat istisqa…”. [3]


  • Tidak adzan ataupun iqamat dalam shalat istisqa.
  • Minta hujan dengan meminta doa orang-orang yang shaleh, karena Umar radhiallahu anhu jika musim paceklik tiba, maka beliau minta doa kepada Abbas, paman Nabi saw lalu beliau berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya kami bertawasul kepada Mu dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan. Dan sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami." Beliau berkata: "Maka diturunkanlah hujan kepada mereka". [4]
  • Ketika turun hujan, ucapkanlah:
     
     َالَّلهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا، وَمُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِه
             "Ya Allah !. Turunkan hujan yang bermanfaat, [5] dan kami diberi hujan karena karunia dan rahmat-Nya".[6]


  • Jika air melimpah dan takut membahayakan, disunahkan mengucapkan:
     
    اَللَّهُـمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا اَللَّهُـمَّ عَليَ اْلآكَامِ [7] وَالظّرَابِ [8]  وَبُطُوْنِ اْللأَوْدِيَةِ وَمنَابِتِ الشَّجَرِ
          "Ya Allah !. Turunkan hujan sekitar kami dan jangan membahayakan kami. Ya Allah!. Turunkan hujan diatas dataran tinggi, bukit, dasar lembah dan tempat tumbuh pepohonan".[9]
  • Disunahkan membuka baju sehingga terkena air hujan.
  • Diharamkan mengatakan: kita diberi hujan karena bintang anu dan anu.
  • Keadaan Rasulullah SAW menjadi berubah jika melihat awan. Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah SAW jika melihat awan atau angin, maka (kedatangan awan dan angin tersebut) diketahui melalui perubahan yang terjadi pada diri Rasulullah SAW. Aku bertanya wahai Rasulullah!, orang-orang berbahagia jika melihat awan karena berharap akan turunnya hujan, sedangkan engkau tampak tidak menyukainya". Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Aisyah!. Bagaimana aku bisa tenang, sebab bisa jadi pada awan itu diturunknnya azab, suatu kaum pernah diazab dengan angin kencang, di mana kaum tersebut melihat azab itu, sementara mereka berkata: "Ini awan yang akan menghujani kita' ". [10]
  • Tidak ada yang tahu kapan turunnya hujan kecuali Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:
    إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ اْلغَيْثَ..
    "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan…" [11]


  • Ketika mendengar halilintar, diucapkan:
     
    سُـبْحَانَ مَنْ يُسَـبِّح الرَّعْـدُ بِحَمْدِهِ وَاْلمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ –3x
          "Maha suci Allah yang menjadikan halilintar bertasbih dengan memuji-Nya dan malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya". (Dibaca 3x kali)." [12]
  • Jika ada angin berhembus maka bacalah:
     
    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرْتَ بِهِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرْتَ بِهِ
          “Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kepadamu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan apa yang Engkau perintahkan kepadanya dan kami berlindung kepadamu dari kejahatan angin ini, kejahatan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan apa yang Engkau perintahkan kepadanya”. [13]
  • Mengeluarkan barang-barang agar terkena air hujan, berdasarkan sabda Nabi Muhamad SAW:
     
    يَا جاَرِيَةَُُأخرُِجِي سَرْجِي أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا
               “Wahai hamba perempuan!, keluarkanlah pelana kudaku dan pakaianku”. Dan Rasulullah SAW membaca Al Qur'an: "Dan Kami turunkan dari langit air yang berkah". [14] [15]
  • Doa ketika turun hujan mustajab. Nabi Muhammad SAW bersabda:
     
     اِثْـنَتَانِ مَا تُرَدُّ: اَلدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ                    
          “Dua doa yang tidak ditolak: ketika adzan dan ketika hujan”. [16]
  • Apakah hujan dicabut berkahnya ?. Diriwayatkan dari Abu Hurairah  RA:
     
    لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لاَ تُمْطـَرُوْا، وَلِكنَّ السَّنَةَ أَنْ تُمْطـَرُوا وَتُمْطـَرُوا وَلاَ تَـنْبُتُ اْلأَرْضُ شَيْئًا
          "Bukanlah musim peceklik dengan tidak diturunkannya hujan, akan tetapi musim paceklik adalah musim diturunkannya hujan, dan diturunkannya hujan akan tetapi hujan tersebut tidak menumbuhkan apa-apa". [17]
  • Sesungguhnya air hujan itu suci sebagaimana firman Allah SWT:
     
     وَأَنْزَلْنَا مِنَ السََّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا
          "Dan Kami turunkan dari langit air yang suci". [18]
  • Keadaan hujan di akhir zaman, diriwayatkan dari Anas RA berkata:
     
    كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ لاَ تَقُـومُ السَّاعَـةُ حَتَّي يُمْطَرَ النَّاسُ مَطَـرًا عَامًا وَلاَ تَـنْبُتُ اْلأَرْضُ شَيْئًا
          "Kami sedang berbincang-bincang bahwa sesungguhnya tidak akan datang kiamat sehingga manusia dihujani oleh hujan selama setahun, namun hujan tersebut tidak menumbuhkan apa-apa". [19]
     
     




[1] HR. Abu Daud (1040).
[2] HR. Abu Daud (1040)
[3] HR. Abu Daud (1034).
[4] HR. Bukhari/Tawasul (51).
[5]  Shahih Adab (530).
[6] HR. Bukhari dan Muslim/Al Kalim Al Thayib (160).
[7] الإكمام dikasrahkan ialah jamak أكمة yaitu الرابية. Dijamakkan الإكام  menjadi أكم dan آكام (Al Nihayah Fi Gharibil Hadits Wal Atsar Libni Al Atsir).
[8] الظراب ialah bukit. Kata tunggalnya ialah ظرب seperti كتِف . Terkadang dijamakkan menjadi أظرب (Al Nihayah Fi Gharibi Al Hadits Wal Atsar Libni Al Atsir)
[9] Irwai' Al Ghalil (680).
[10] Al Silsilah Al Shahihah (2757), Shahih Al Jami' Al Shaghir (7930).
[11] QS. Luqman (34).
[12] Al Kalimut Thayib (157).
[13] Al Silsilah Al Shahihah (2756).
[14] QS. Qaf (9).
[15] Isnadnya Shahih Mauquf, Shahih Al Adab (9320).
[16] Shahih Al Jami’ (3078).
[17] Shahih Jami' (15447).
[18] QS. Al Furqon (48).
[19] Al Silsilah Al Shahihah (12773).

Doa-doa istisqa'


Astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi

Artinya : Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadanya.

Doa-doa istisqa'-sholat minta hujan dan artinya.

Doa-doa berikut ini adalah dibaca ketika


sholat minta hujan.

اَللَّهُمَّ اسْقِنَا اْلغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلقَافِطِيْنَ

Artinya : Ya Allah tumpahkanlah hujan kepada kami dan janganlah engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
 

اَللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَ مَنَابِتِ الشَّجَرِ وَ بُطُوْنِ اْلأَدْوِيَةِ. اَللَّهُمَّ هَوَالَيْنَا وَ لاَ عَلَيْنَا

Artinya : Ya Allah curahkanlah hujan itu di atas tumpukan-tumpukan tanah (gumuk), bukit-bukit, tempat pepohonan, tanaman dan tumbuh-tumbuhan, dan dilembah-lembah. Ya Allah, curahkanlah di sekeliling kami dan jangan di atas kami
 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ وَ لاَ تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ وَ لاَ مَحْقٍ وَ لاَ بَلاَءٍ وَ لاَ هَدْمٍ وَ لاَ غَرَقٍ

Artinya : Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagai siraman rahmat dan janganlah Tuhan jadikan hujan ini sebagai siraman siksa dan janganlah Tuhan menjadikan hujan inisuatu siraman yang memusnahkan harta benda, dan mara bahaya dan jangan siraman yang menghancurkan dan menenggelamkan.
 
اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْعًا سَحًّا عَامًّا غّدَقًا طَبَقًا مُجَلِّلاً دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا اْلغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلقَافِطِيْنَ

Artinya : Ya Allah siramilah kami dengan hujan yang menyelamatkan, menikmatkan, menyenangkan, menyuburkan, mengalirkan ke segenap penjuru, banyak air dan kebaikannya, memenuhi sungai-sungai dan selalu mengalir merata hingga sampai hari kiamat, Ya Allah tumpahkanlah hujan kepada kami, dan janganlah Tuhan jadikan kami orang-orang yang berputus asa.
 
اَللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَ اْلبِلاَدِ مِنَ اْلجَهْدِ وَ الْجُوْعِ وَ الضَّنْكِ مَا لاَ نَشْكُو إِلاَّ إِلَيْكَ

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya hamba Allah dan negeri tengah ditimpa kemelaratan dan kelaparan dan kesempitan hidup dan kami tidak dapat mengadukan kecuali kepada-Mu (Allah).
 
اَللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَ أَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَ أَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلأَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ اْلبَلاَءِ مَالاَ يَكْشِفْهُ غَيْرُكَ

Artinya : Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman-tanaman ini untuk kami dan perbanyaklah air-air susu binatang-binatang untuk kami, tumpahkanlah barokah dari atas untuk kami, tumbuhkanlah isi bumi ini untuk kami, dan hindarkanlah kami dari mara bahaya sesuatu bencana alam yang tak akan mampu kami menghindarkannya, kecuali Engkau ya Allah

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ مِدْرَارًا

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampunan-Mu. Sungguh Tuhan Maha Pengampun. Tumpahkanlah hujan itu dari langit untuk kami dengan sederas-derasnya.

Itulah tata cara dan doa shoat minta hujan atau doa sholat istisqa lengkap. Semoga kita selalu mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah dari segala mara bahaya, cobaan/musibah, ujian yang sekiranya kita tidak mampu.

Sholat minta hujan

Sholat minta hujan atau disebut juga sholat istisqa' adalah sholat sunnah untuk memohon atau meminta hujan yang disunnahkan untuk dikerjakan bagi orang-orang musafir atau orang-orang yang bermukim. Sholat ini dikerjakan manakala tidak ada hujan turun dan sangat mengharapkan atau menghajatkan air.

Ada tiga cara untuk melaksanakan sholat minta hujan atau sholat memohon hujan (istisqa'), 3 cara mengerjakan sholat minta hujan yaitu sebagai berikut :
  • Hanya berdoa saja pada sembarang tempat dan waktu dengan suara yang nyaring atau suara lemah.
  • Denganc cara menambahkah doa istisqa' yaitu doa minta hujan pada saat atau waktu khotbah jum'at.
  • Dengan melakukan shalat dua rakaat yang disertai dengan dua khotbah. Inilah yang disebut dengan sholat minta hujan
Tata cara Sholat minta hujan

Sholat minta hujan didahului dengan niat sholat minta hujan. Lafadz niat sholat minta hujan yaitu :

أصلى سنة الإستسقاء ركعتين (إماما / مأموما) لله تعالى. الله اكبر

Artinya : Aku niat sholat sunnah istisqa' dua rakaat (jadi imam/makmum) karena Allah ta'ala. Allahu Akbar

Urutan cara melaksanakan sholat minta hujan adalah sebagai berikut :
  • Tiga hari sebelum mengerjakan sholat istisqa', ulama atau imam memerintahkan kaumnya agar berpuasa selama tiga hari dan menganjurkan kepada kaumnya juga untuk berbuat baik seperti sodakoh, bertaubat dari segala dosa, mengusahakan perdamaian dengan orang-orang yang dianggap musuh atau lawan, dan menghindari serta melepaskan semua tindakan kedzaliman.
  • Pada hari yang ke-empat, semua penduduk diminta untuk keluar rumah termasuk juga binatang ternak ke tanah lapang untuk melakukan sholat istisqa'. Ketika keluar ke tanah lapang sebaiknya dan hendaknya berpakaian sederhana, tidak memakai wangi-wangian serta tidak berhias. Dan selama itu juga dianjurkan kepada seluruh  penduduk hendaknya memperbanyak membaca istighfar yang artinya memohon ampun.
  • Sholat minta hujan dua rakaat dengan niat sholat seperti di atas. Setelah salam, kemudian khotib sholat istisqa' membacakan dua khotbah dan pada khotbah yang pertama dimulai dengan membaca istighfar 9 kali dan pada khotbah yang kedua dimulai dengan membaca istighfar sebanyak 7 kali.
Pelaksanaan khotbah istisqa'

Ada sedikit perbedaan dalam pelaksanaan antara khotbah jum'at dengan khotbah istisqa', perbedaan tersebut yaitu :
  • Ketika khotbah siunnahkan untuk memakai selendang.
  • Isi khotbah istisqa' ketika sholat minta hujan adalah berisi anjuran untuk beristighfar dan merendahkan diri kepada Allah serta berkeyakinan bahwa Allah akan mengambulkan untuk menurunkan hujan,
  • Ketika kita berdoa hendaknya mengangkat kedua tangan lebih tinggi hingga terbuka antara lengan dan badannya.
  • Pada khotbah yang kedua, ketika berdoa hendaknya khotib berpaling ke kiblat yang artinya membelakangi makmum dan bersama-sama semuanya berdoa terus. Dalam berdoa hendaknya khotib berdoa dengan suara yang lemah menurun (tekanan suara irama memohon). Ketika khotib berdoa dengan suara nyaring, maka makmumnya pun juga mengikuti imam untuk berdoa dengan suara nyaring.
  • Ketika berpaling ke kiblat, khotib hendaknya merubah selendangnya yang kanan ke kiri dan yang di atas ke bawah
    Lafadz bacaan istighfar dan doa istisqa'

    سْتَغْفِرُاللهَ الّذِيْ لاَ اِلَهَ اِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوّمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ

    Astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi

    Artinya : Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadanya.

    Doa-doa istisqa'-sholat minta hujan dan artinya.

    Doa-doa berikut ini adalah dibaca ketika sholat minta hujan.

    اَللَّهُمَّ اسْقِنَا اْلغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلقَافِطِيْنَ

    Artinya : Ya Allah tumpahkanlah hujan kepada kami dan janganlah engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
     

    اَللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَ مَنَابِتِ الشَّجَرِ وَ بُطُوْنِ اْلأَدْوِيَةِ. اَللَّهُمَّ هَوَالَيْنَا وَ لاَ عَلَيْنَا

    Artinya : Ya Allah curahkanlah hujan itu di atas tumpukan-tumpukan tanah (gumuk), bukit-bukit, tempat pepohonan, tanaman dan tumbuh-tumbuhan, dan dilembah-lembah. Ya Allah, curahkanlah di sekeliling kami dan jangan di atas kami
     
    اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ وَ لاَ تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ وَ لاَ مَحْقٍ وَ لاَ بَلاَءٍ وَ لاَ هَدْمٍ وَ لاَ غَرَقٍ

    Artinya : Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagai siraman rahmat dan janganlah Tuhan jadikan hujan ini sebagai siraman siksa dan janganlah Tuhan menjadikan hujan inisuatu siraman yang memusnahkan harta benda, dan mara bahaya dan jangan siraman yang menghancurkan dan menenggelamkan.
     
    اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْعًا سَحًّا عَامًّا غّدَقًا طَبَقًا مُجَلِّلاً دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا اْلغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلقَافِطِيْنَ

    Artinya : Ya Allah siramilah kami dengan hujan yang menyelamatkan, menikmatkan, menyenangkan, menyuburkan, mengalirkan ke segenap penjuru, banyak air dan kebaikannya, memenuhi sungai-sungai dan selalu mengalir merata hingga sampai hari kiamat, Ya Allah tumpahkanlah hujan kepada kami, dan janganlah Tuhan jadikan kami orang-orang yang berputus asa.
     
    اَللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَ اْلبِلاَدِ مِنَ اْلجَهْدِ وَ الْجُوْعِ وَ الضَّنْكِ مَا لاَ نَشْكُو إِلاَّ إِلَيْكَ

    Artinya : Ya Allah, sesungguhnya hamba Allah dan negeri tengah ditimpa kemelaratan dan kelaparan dan kesempitan hidup dan kami tidak dapat mengadukan kecuali kepada-Mu (Allah).
     
    اَللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَ أَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَ أَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلأَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ اْلبَلاَءِ مَالاَ يَكْشِفْهُ غَيْرُكَ

    Artinya : Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman-tanaman ini untuk kami dan perbanyaklah air-air susu binatang-binatang untuk kami, tumpahkanlah barokah dari atas untuk kami, tumbuhkanlah isi bumi ini untuk kami, dan hindarkanlah kami dari mara bahaya sesuatu bencana alam yang tak akan mampu kami menghindarkannya, kecuali Engkau ya Allah

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ مِدْرَارًا

    Artinya : Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampunan-Mu. Sungguh Tuhan Maha Pengampun. Tumpahkanlah hujan itu dari langit untuk kami dengan sederas-derasnya.

    Itulah tata cara dan doa shoat minta hujan atau doa sholat istisqa lengkap. Semoga kita selalu mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah dari segala mara bahaya, cobaan/musibah, ujian yang sekiranya kita tidak mampu.

    SOLAT ISTISQA’

     
     
     
     
    PANDUAN SOLAT SUNAT
    CARA NABI S.A.W.
     
    Penulis: Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
     
     Disemak oleh: Ustaz Mohd Fikri Che Hussain
     
     
    SOLAT ISTISQA’
     
    Istisqa’ bermaksud meminta siraman air. Istisqa’ juga bermakna doa meminta hujan kepada Allah S.W.T dengan cara yang tertentu seperti berdoa ketika khutbah Jumaat, berdoa setelah selesai solat, doa secara sendirian (tanpa solat atau khutbah) dan mengerjakan solat Istisqa’. Oleh itu solat sunat Istisqa’ adalah solat yang dikerjakan secara spesifik untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menurunkan hujan di saat terjadinya musim kemarau. Kejadian kemarau ini merupakan salah satu tanda kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai balasan terhadap hamba-hamba-Nya yang tidak menurut perintah-Nya. Sebagai contohnya telah diriwayatkan daripada Ibnu ‘Umar radhiallahu’ anh bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
     
    ...وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ
     
    وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ...
     
    …Dan tidak akan ada suatu kaum yang mengurangi sukatan dan timbangan kecuali Allah akan mencabut nikmat-Nya dan menjadikan penguasa zalim memerintah mereka. Tidak ada orang yang menahan zakat daripaa harta-harta mereka kecuali Allah akan menahan turunnya titisan air dari langit… – Hadis riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab al-Fitan, no: 4009
     
     Justeru itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajar umatnya agar mengerjakan solat Istisqa’, memperbanyakan doa serta istighfar (memohon keampunan) agar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan dan mengembalikan nikmat rezeki kepada para hamba-Nya. Hukum solat Istisqa’ ini adalah sunat dan tidak wujud satu dalilpun yang mewajibkannya.
     
     

    v  TATACARA PERLAKSANAAN SOLAT ISTISQA’

     
    q  Penampilan Fizikal Dan Mental Untuk Bersolat Istisqa’
    Mereka yang mengerjakan solat Istisqa’ ini hendaklah menuju ke tempat perlaksanaan solat tersebut dengan penampilan sederhana, tawadhu’ (merendah hati), tadharru’ (bersungguh-sungguh dalam memohon) dan tamaskun (menunjukkan benar-benar perlukan permintaan tersebut)
     
    فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا مَنَعَهُ أَنْ يَسْأَلَنِي خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعًا مُتَبَذِّلاً
     
    مُتَخَشِّعًا مُتَضَرِّعًا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدَيْنِ وَلَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ.
     
    Maksudnya:
    Daripada Ibnu ‘Abbas radhiallahu’ anh, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (keluar untuk bersolat Istisqa’) dan mengenakan pakaian biasa (bukan pakaian yang indah-indah seperti solat sunat pada Hari Raya-pen) dengan penuh harapan. Baginda bersolat dua rakaat sebagaimana solat Hari Raya, tetapi tidak berkhutbah seperti khutbah yang biasa itu. - Hadis riwayat Imam al-Nasa’i dalam Sunannya, Kitab al-Istisqa’, no: 1504.
     
    q  Solat Istisqa’ Dikerjakan Secara Berjemaah Sebanyak Dua Rakaat.
     
    عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي
     
    فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ فِيهَا.
     
    Maksudnya:
    Daripada ‘Abbad bin Tamim daripada pakciknya (‘Abdullah bin Zaid al-Mazini) dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar bersama orang banyak untuk mengerjakan solat Istisqa’. Baginda bersolat dua rakaat dan menguatkan bacaan dalam kedua rakaat itu. - Hadis Riwayat Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Jumu’ah, no: 510.
     
    q  Tidak Dilaungkan Azan Atau Iqamah Sebelum Solat Tersebut.
     
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي
     
    فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلاَ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ
     
    Maksudnya:
    Abu Hurairah radhiallahu’ anh berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada suatu hari untuk mengerjakan solat Istisqa’, lalu bersolat bersama kami dua rakaat tanpa azan atau iqamah…- Hadis Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Iqaamatush Shalaah was Sunnah Fiiha, no: 1258.
     
    q  Dilaksanakan Sebagaimana Solat Hari Raya.
    Solat Istisqa’ dikerjakan sama sebagaimana solat Hari Raya yakni dengan melakukan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua.
     
    فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا مَنَعَهُ أَنْ يَسْأَلَنِي خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعًا مُتَبَذِّلاً
     
    مُتَخَشِّعًا مُتَضَرِّعًا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدَيْنِ وَلَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ.
     
    Maksudnya:
    Daripada Ibnu ‘Abbas radhiallahu’ anh, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (keluar untuk bersolat Istisqa’) dan mengenakan pakaian biasa (bukan pakaian yang indah-indah seperti solat sunat pada Hari Raya-pen) dengan penuh harapan. Baginda bersolat dua rakaat sebagaimana solat Hari Raya, tetapi tidak berkhutbah seperti khutbah yang biasa itu. - Hadis riwayat Imam al-Nasa’i dalam Sunannya, Kitab al-Istisqa’, no: 1504.
     
    q  Waktu Perlaksanaan Solat Istisqa’.
    Solat sunat Istiqa’ boleh dikerjakan pada bila-bila masa kecuali waktu yang diharamkan untuk bersolat.
     
    q  Bacaan Dalam Solat Istisqa’ Adalah Secara Jahar (Kuat).
     
    عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي
     
    فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ فِيهَا.
    Maksudnya:
    Daripada ‘Abbad bin Tamim daripada pakciknya (‘Abdullah bin Zaid al-Mazini) dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar bersama orang banyak untuk mengerjakan solat Istisqa’. Baginda bersolat dua rakaat dan menguatkan bacaan dalam kedua rakaat itu. - Hadis Riwayat Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Jumu’ah, no: 510.
     
    Sebagaimana solat Hari Raya  dianjurkan juga untuk membaca surah Qaf atau surah al-Qamar pada rakaat pertama dan bacaan semasa rakaat kedua sama ada surah al-A’laa atau al-Ghaasyiah.
     
    q  Tempat Perlaksanaan Solat Istisqa’.
    Tidak dikerjakan di dalam masjid tetapi di musolla iaitu di tanah yang lapang seperti padang atau halaman masjid yang luas.
     
    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
     
    قُحُوطَ الْمَطَرِ. فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي الْمُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ.
     
    Maksudnya:
    Daripada ‘Aishah radhiallahu’ anha, dia berkata: Orang-orang mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerana lambatnya hujan. Baginda lalu memerintahkan agar disiapkan sebuah mimbar dan diletakkan di tanah yang lapang (untuk dikerjakan solat secara berjemaah) dan ditetapkan kepada orang-orang itu supaya keluar bersama-sama (untuk mengerjakan solat) pada hari yang ditentukan.... - Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no: 992.
     
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ketua negara umat Islam telah turun bersama-sama rakyat untuk mengerjakan solat Istisqa’ ini. Lantaran itu pada masa kini terdapat beberapa negara-negara Islam di timur tengah yang mana para pemerintah tertinggi sesebuah negara itu turut turun bersama rakyat jelata untuk mengerjakan solat Istisqa’ ini di musolla. Kita ternanti-nanti bila sunnah ini akan diamalkan pula oleh pemerintah di Malaysia.
     
    q  Ringkasan Tatacara Mengerjakan Solat Istisqa’.

    Rakaat Pertama

    1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Istiqa’
    2)      Takbiratul Ihram
    3)      Doa Iftitah
    4)    Takbir Tujuh kali dan diselangi membaca zikir seperti سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ “Subhanallah, walhamdulillah,wa la ilaha illallah, wallahu akbar” sebanyak enam kali
    5)      Membaca surah al-Fatihah
    6)      Membaca Surah al-Qur’an
    7)      Rukuk
    8)      Iktidal
    9)      Sujud
    10)    Duduk antara dua sujud
    11)    Sujud kali kedua
    12)    Bangun untuk rakaat kedua
     
    Rakaat Kedua
    1)   Takbir Lima kali dan diselangi membaca zikir seperti سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ “Subhanallah, walhamdulillah,wa la ilaha illallah, wallahu akbar” sebanyak empat kali
    2)      Membaca surah al-Fatihah
    3)      Membaca Surah al-Qur’an
    4)      Rukuk
    5)      Iktidal
    6)      Sujud
    7)      Duduk antara dua sujud
    8)      Sujud kali kedua
    9)      Duduk untuk tahiyyat akhir
    10)    Memberi salam ke kanan dan ke kiri
     
    q  Bacaan Khutbah Untuk Solat Istisqa’.
    Khutbah ringkas dilakukan sebelum atau sesudah solat Istisqa’ di atas mimbar yang disediakan. Namun Imam al-Nawawi rahimahullah lebih mengutamakan khutbah dikerjakan setelah solat sebagaimana khutbah untuk solat Hari Raya. Berbeza dengan khutbah ketika solat Hari Raya, khutbah untuk solat Istisqa’ adalah ringkas sahaja. Dalilnya adalah hadis berikut:
     
    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُحُوطَ
     
    الْمَطَرِ. فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي الْمُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ.
     
    قَالَتْ عَائِشَةُ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى
     
    الْمِنْبَرِ فَكَبَّرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ قَالَ:
     
      إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ وَاسْتِئْخَارَ الْمَطَرِ عَنْ إِبَّانِ زَمَانِهِ عَنْكُمْ
     
      وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَدْعُوهُ وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ,
     
    ثُمَّ قَالَ:
     
      الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ.
     
      اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ. أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً
     
      وَبَلاَغًا إِلَى حِينٍ.
     
    ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ فِي الرَّفْعِ حَتَّى بَدَا بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ أَوْ حَوَّلَ
     
    رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ
     
    فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً فَرَعَدَتْ وَبَرَقَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ بِإِذْنِ اللَّهِ …
     
    Maksudnya:
    Daripada ‘Aishah radhiallahu’ anha, dia berkata: Orang-orang mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerana lambatnya hujan. Baginda lalu memerintahkan agar disiapkan sebuah mimbar dan diletakkan di tanah yang lapang (untuk dikerjakan solat secara berjemaah) dan ditetapkan kepada orang-orang itu supaya keluar bersama-sama (untuk mengerjakan solat) pada hari yang ditentukan.
    Menurut ‘Aishah ketika matahari telah naik, baginda pun keluarlah lalu duduk di atas mimbar, bertakbir serta memuji Allah dan bersabda: Kamu semua mengeluh sebab keringnya negerimu, sedang Allah telah menyuruhmu semua agar berdoa serta Dia menjanjikan pasti akan mengabulkan permohonanmu itu.
    Baginda meneruskan: “Alhamdulillaahi rabbil’aalamiin. Arrahmaanirrahiim, Maliki Yaumiddiin” Tiada Tuhan melainkan Allah, Tuhan berbuat sekehendak-Nya. Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang Maha Kaya sedang kami adalah kaum fakir. Turunkanlah hujan kepada kami serta jadikanlah hujan itu menjadi kekuatan serta mencukupi kami sampai habis masanya.
    Selanjutnya baginda mengangkat kedua tangannya dan berdoa sampai kelihatan putih ketiaknya, kemudian membalikkan diri dan menghadap ke arah kiblat, selendangnya dibalikkan letaknya sambil mengangkat kedua tangannya itu, lalu menghadap kepada semua manusia dan turun dari mimbar terus bersolat dua rakaat. Di saat itu Allah Ta’ala menampakkan segumpal awan, terdengarlah suara guruh dan petir dan kemudian turunlah hujan dengan izin Allah Ta’ala… - Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no: 992.
     
    Menerusi hadis di atas dapat difahami bahawa setelah khutbah maka Imam hendaklah menghadapkan wajahnya ke arah kiblat lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke langit lalu berdoa dengan bersungguh-sungguh bersama-sama dengan para makmum. Disunnahkan juga untuk menterbalikkan tapak tangan ketika berdoa di mana bahagian belakang tapak tangan tersebut di hadapkan ke arah langit.
     
    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ.
     
    Maksudnya:
    Daripada Anas bin Malik (radhiallahu’ anh) bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu ketika memohon hujan sedangkan punggung kedua tapak tangannya itu diangkat ke atas langit. - Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Solat al-Istisqa’, no: 896.
     
    Bagi mereka yang memakai selendang di atas kepala (syal yang dipakai oleh lelaki) maka disunatkan untuk mengalihkan bucu selendang di bahu kanan ke bahu kiri dan yang di bahu kiri ke kanan dengan membuka dan menterbalikkan tudung tersebut lalu memakainya semula. Ada yang berpendapat bahawa tindakan mengalihkan selendang ini sebagai tafa’ul atau mengharapkan adanya perubahan keadaan dari kemarau kepada hujan
     
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي
     
    فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلاَ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ.
     
    ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الأَيْمَنَ عَلَى الأَيْسَرِ وَالأَيْسَرَ عَلَى الأَيْمَنِ.
     
    Maksudnya:
    Abu Hurairah radhiallahu’ anh berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada suatu hari untuk mengerjakan solat Istisqa’, lalu bersolat bersama kami dua rakaat tanpa azan atau iqamah, kemudian menyampaikan khutbah serta berdoa kepada Allah, lalu berpaling ke arah kiblat sambil mengangkat kedua tangannya. Selanjutnya dibalikkan selendangnya yang kanan diletakkan di kiri dan yang kiri di kanan. - Hadis Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Iqaamatush Shalaah was Sunnah Fiiha, no: 1258.
      
     
     
     

    Monday, March 2, 2015

    NIKAH "KHITBAH" BOLEH MENCEGAH PENZINAAN WRITTEN BY USTAZ NASRUDIN TANTAWI.


    1. Sedang pelbagai pihak seperti buntu mencari penyelesaian kepada barah sosial yang menjurus kepada pergaulan dan seks bebas [ zina ] serta rogol dan buang bayi berleluasa pada hari ini , Dewan Pemuda PAS menyarankan satu program atau projek besar iaitu " Taysir az Ziwaj " dilaksanakan , khasnya oleh pihak berwajib.
    2. Taysir Az Ziwaj ialah " Permudahkan Proses Perkahwinan " terutama kepada anak - anak muda yang tidak berkemampuan dari segi material untuk mendirikan rumahtangga tetapi dalam masa yang sama mempunyai keinginan yang tinggi untuk hidup berpasangan .
    3. Islam adalah agama yang penuh dengan rahmah dan berkah. Ia diutuskan oleh Allah swt Tuhan yang mencipta manusia bukan untuk menghalang atau menidakkan keperluan manusia seperti keinginan [ nafsu ] syahwah dan sebagainya tetapi Islam datang untuk membetulkan dan memandu manusia agar melunas keinginannya secara yang betul , benar dan baik .
    4. Gejala seks bebas [ zina ] dan rogol adalah angkara nafsu yang tidak terkawal dan ia disalurkan secara tidak betul , tidak benar dan membawa keburukan kepada diri dan orang lain . Sedang Islam menggalakkan perkahwinan [ aqad nikah ] agar hati manusia tenteram dan tenang serta nafsu dapat dikawal . Ini membawa kebaikan kepada semua ummat manusia .ala
    Firman Allah swt yang bermaksud :
    dan kahwinkanlah orang - orang bujang [ lelaki dan perempuan ] dari kalangan kamu dan orang - orang yang soleh dari hamba - hamba kamu , lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin , Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya kerana Allah swt Maha Luas rahmat dan kurniaNya lagi Maha Mengetahui .
    An Nuur : Ayat 32
    5. Perkahwinan yang digalakkan oleh Islam ini sewajarnya dipermudahkan prosesnya agar generasi muda negara tidak liar dan kemaruk nafsu lalu terjebak dalam kancah seks bebas [ zina ]. Memudahkan prosesnya boleh dilakukan oleh pihak berwajib [kerajaan] seperti [ sekadar menyebut beberapa contoh ] :
    * Memberi peruntukan kepada pasangan muda yang ingin berkahwin
    * Memberi insentif sebagai galakan berkahwin
    * Mengurangkan karenah birokrasi yang menyulitkan
    * Kursus dan khidmat bimbingan perkahwinan secara percuma
    * Menganjurkan perkahwinan beramai - ramai yang menjimatkan
    * Mendidik masyarakat dengan budaya sederhana dalam majlis perkahwinan
    * Merendahkan hantaran perkahwinan
    6. Antara kaedah mempermudahkan proses perkahwinan ini ialah Nikah Khitbah atau dalam bahasa mudah disebut oleh masyarakat kita sebagai Nikah Gantung . Nikah Khitbah adalah sama seperti nikah biasa mengikut hukum dan perundangan Islam yang mempunyai 5 rukunnya iaitu :
    * Suami
    * Isteri
    * Wali
    * Saksi
    * Aqad [ Ijab Qabul ]
    cuma bezanya ialah pasangan pengantin [ suami isteri ] tidak tinggal serumah dalam tempoh - tempoh tertentu kerana beberapa keadaan seperti [sekadar menyebut beberapa contoh] :
    * Masih menuntut di kolej atau uniersiti
    * Tidak mempunyai kemampuan menyewa rumah
    * Belum bersedia menanggung komitmen kehidupan berumahtangga
    justeru itu , buat tempoh tertentu pasangan suami isteri yang telah dinikahkan itu tinggal berasingan [ atas persetujuan bersama kedua - dua pihak ] dan barangkali tinggal bersama keluarga masing sehinggalah mereka merasakan segala halangan diatas telah selesai dan mereka benar - benar bersedia mengharungi kehidupan berumahtangga yang besar tanggungjawabnya.
    7. Kelebihan Nikah Gantung ini ialah mereka adalah pasangan suami isteri yang sah mengikut hukum agama dan undang - undang negara . Andai dalam tempoh itu mereka bertemu , keluar makan , dating , study bersama bahkan kalau mereka terlanjur sekalipun mengadakan hubungan seks , maka apa yang mereka lakukan itu tidak salah atau tidak haram .
    8. Andai berlaku kehamilan , maka pasangan itu tidak perlu panik terutama pihak gadis yang hamil kerana ia menghamilkan anaknya yang sah nasab [ keturunan ] . Bahkan nanti mereka tidak perlu malu dan menjauhkan diri dari keluarga kerana keluarga pula akan menyambut kedatangan bayi itu dengan bangga dan bermaruah .
    9. Kes buang bayi yang berleluasa hari ini rata - ratanya adalah ekoran rasa panik dan hilang pertimbangan akibat malu dan hilang maruah dari pasangan terbabit. Malah mereka juga takut untuk kembali kepangkuan keluarga justeru mereka mengetahui bahawa hubungan mereka salah dan mereka hamil hasil hubungan terlarang . Ia memalukan keluarga dan mencemarkan maruah bangsa dan agama . Akhirnya , jalan pintas dan terdesak yang ada pada mereka ialah buang bayi tersebut dengan harapan selesai masaalah dan beban yang mereka hadapi tanpa mereka menyedari bahawa akan mencetus bencana yang lebih parah kepada sosial negara .
    10. Sebenarnya Nikah Khitbah ini pernah dilakukan dalam masyarakat Arab . Menurut amalan tersebut , sewaktu majlis pertunangan , ia dilangsungkan sekali dengan majlis aqad nikah [ halflun nikah ] tetapi mempelai tidak boleh tinggal sekali [serumah] sehingga berlangsungnya pula majlis perkahwinan [haflul Qiran] . Terkadang tempoh itu [ antara pertunangan dan perkahwinan menjangkau tahun lamanya.]
    11. Dalam masyarakat Melayu , amalan ini sebenarnya pernah diamalkan sebelum ini dengan nama Nikah Gantung . Ia pernah di kaji oleh beberapa Anthropologist seperti Paletz , Djamour dan Jones. Mereka mengistilahkan Nikah Gantung sebagai "Suspended Marriage Contract" iaitu satu fenomena sosial yang diamalkan oleh masyarakat Islam di Asia tenggara .
    12. Malah menurut Abdul Jalil Borhan , perkara yang berkaitan dengan Nikah Gantung terdapat dalam seksyen 112 [dalam bahagian 5] enakmen Pentadbiran Agama Islam Johor.
    Perbahasan Hukum
    13. Salah satu dalil yang digunakan oleh sebahagian para alim ulama' ialah Perkahwinan Rasulullah saw dengan Aishah rha. menurut hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim , Rasulullah saw telah mengahwini Aishah ketika berumur 6 tahun dan hanya duduk serumah ketika Aishah berumur 9 tahun . Hadis ini menjadi dalil berlakunya aqad nikah , maka bukan menjadi kewajipan bagi mempelai untuk terus tinggal serumah terutama atas persetujuan kedua pihak untuk beberapa tempoh yang dipersetujui.
    14. Apabila pasangan pengantin [ nikah gantung ] bersetuju untuk tinggal berasingan kerana beberapa perkara yang diambil kira seperti yang saya sebutkan di atas tadi , maka tidaklah berbangkit isu nafkah batin [ jima' \ bersetubuh ] . Apa yang timbul ialah perbahasan dari segi nafkah zahir [ material ] . Berkait perkara ini , kita mempunyai beberapa pandangan :
    a] Mazhab Zahiri seperti yang dinyatakan oleh Ibn Hizam iaitu nafkah ini [ nafkah zahir ] wajib dengan berlakunya aqad , maka selepas sahaja aqad nikah , suami wajib memberi nafkah zahir kepada isterinya .
    b] Pandangan Jumhur ulama' iaitu nafkah zahir itu hanya wajib apabila isteri memenuhi syarat - syarat tertentu seperti isteri menyerahkan diri kepada suami [ berpindah ke tempat suami ] , boleh melakukan istimta' [ mengambil keseronokan] , jima' [ bersetubuh ] , isteri tidak keluar rumah tanpa izin suami dan seumpamanya .
    15. Nikah khitbah dapat disimpulkan bahawa : bebanan nafkah itu tidak diwajibkan ke atas suami sekiranya kehidupan biasa suami isteri belum berlaku . Bagaimanapun sekiranya suami isteri tersebut keluar bersama , maka tiada halangan dari segi hukum syara' kerana mereka adalah suami isteri yang sah. Demikian juga andai berlaku kehamilan maka bayi itu sah dan mereka boleh menjalani kehidupan berkeluarga seperti biasa yang sah. Tidak perlulah mereka melarikan diri , buang bayi dan menggugurkan bayi atau membunuhnya .
    16. Tegasnya saya sebutkan disini , terutama kepada pihak berkuasa agama , ibu bapa dan seluruh anggota masyarakat termasuk anak - anak muda agar mereka kembali kepada cara hidup Islam . Walaupun nikah gantung ini kelihatan seperti baru dalam negara kita bagi sesetengah pihak , tetapi ia lebih baik dari kita membiarkan anak - anak gadis dan teruna kita berpeleseran , bergaul bebas lalu akhirnya mereka terjebak dalam kancah seks bebas dan penzinaan yang memalukan . Bukan sahaja maruah keluarga dan agama tercalar , murka Allah swt itulah yang paling ditakuti.
    Disediakan Oleh
    Ust.Nasruddin Hassan At Tantawi

    Monday, October 20, 2014

    Penjelasan Dr Asri berkenaan Program Menyentuh Anjing Oleh Orang islam

    Posted on Monday, October 20 @ 15:00:00 MYT
    Dilulus untuk paparan oleh KetamBatu


    Komentar

    Oleh DrMAZA.com

    ANJING DAN ISU MASYARAKAT MALAYSIA
    Dalam masyarakat yang rencam agama dan budaya, pelbagai perkara sensitive mudah timbul. Di zaman teknologi maklumat, bermacam sudut pandang akan muncul. Sememang inilah reality masyarakat ‘era baru’ kini yang mempunyai pelbagai dimensi dan perspective baru yang tidak dimiliki oleh generasi yang hidup dalam era yang lepas.


    Ada yang kata anjing binatang yang dimusuhi oleh Islam. Ada yang kata perbuatan memegang anjing diharamkan oleh Islam. Ada pula yang kata apa salahnya kita membela anjing macam orang lain. Macam-macam lagi yang ditimbulkan. Ada yang berdasar fakta, ada berdasar emosi.
    Ramai yang meminta saya mencoretkan sesuatu tentang anjing pada pandangan muslim. Dalam ruang yang terbatas ini, saya ingin sebutkan secara ringkas isu-isu berikut;
    Samakan Dengan Anjing
    Walaupun manusia mempunyai pelbagai latar budaya dan agama, namun secara umumnya kesemua masyarakat menganggap menyamakan mana-mana individu dan pihak dengan anjing merupakan satu penghinaan. Sekalipun masyarakat Barat ramai yang menganggap ‘a dog is a man’s best friend’ namun jika kita berkata ‘you are like a dog’ ia merupakan satu penghinaan. Jika pun ada yang memahami dengan maksud kesetiaan ataupun loyalty namun ia bermaksud kesetiaan yang membuta tuli.
    Al-Quran juga menjadikan anjing sebagai satu perumpamaan yang buruk bagi golongan ulama penjilat dunia yang menjual prinsip kebenaran demi kepentingan diri. Firman Allah: (maksudnya) “Dan bacakanlah kepada mereka (Wahai Muhammad), khabar berita seorang yang Kami beri kepadanya (pengetahuan mengenai) ayat-ayat Kami. Kemudian dia menjadikan dirinya terkeluar dari mematuhinya, lalu dia diikuti oleh syaitan, maka dia dari kalangan yang sesat. Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami angkat kedudukannya dengan (berpegang) ayat-ayat itu, tetapi dia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya, ia menghulurkan lidahnya, dan jika Engkau membiarkannya, ia juga menghulurkan lidahnya. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir (Surah al-’Araf: 175-176).
    Jadi, jika masyarakat muslim sensitive apabila mereka ataupun amalan mereka dibandingkan dengan anjing, maka itu memang sepatutnya. Mereka yang membuat apa-apa provokasi dalam hal yang seperti itu memang membuat onar dan ingin menimbul permusuhan dengan masyarakat muslim tanpa sebab. Perbuatan itu merosakkan keharmonian masyarakat di negara ini.
    Islam Benci Anjing?
    Ada orang bertanya pula, jadi apakah Islam membenci anjing dan melarang muslim berbuat baik kepada binatang berkenaan?
    Dalam al-Quran Allah menceritakan tentang anjing yang mengiring para pemuda al-Kahfi dan turut bersama mereka semasa berjuang menghadapi rejim yang zalim pada zaman mereka. Firman Allah: (maksudnya) “dan engkau sangka mereka sedar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri; sedangkan anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa amat gerun takut kepada mereka.” (Surah al-Kahfi, ayat 18).
    Anjing tersebut menjadi binatang yang bersahabat dengan para pejuang kebenaran. Anjing itu lambang kemuliaan. Sesetengah riwayat yahudi menamakan anjing itu ‘qidmir’.
    Sementara dalam hadis pula, Nabi s.a.w bersabda: “Diampunkan dosa seorang pelacur yang melintasi seekor anjing yang berada di tepi sebuah telaga yang lidahnya terjelir. Hampir kehausan membunuhnya. Maka pelacur itu pun menanggalkan kasutnya, lalu dia ikat kasut itu dengan tudungnya lantas dia menceduk air untuk anjing tersebut. Dia diampunkan disebabkan kejadian itu” (Riwayat al-Bukhari).
    Betapa seorang pelacur yang buruk sekalipun diampuni dosanya oleh Allah kerana dengan ikhlas memberikan minum kepada seekor anjing. Bagaimana mungkin untuk kita menganggap bahawa Islam tidak menilai sebagai satu perbuatan yang baik jika muslim memberi makan dan minum kepada anjing?!! Jika ada orang muslim yang memberi makan kepada anjing patutlah dipuji.
    Bolehkah muslim memiliki anjing?
    Dalam al-Quran, Allah menyebut: (maksudnya) “Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad): “Apakah (makanan) yang dihalalkan bagi mereka?” bagi menjawabnya: “Dihalalkan bagi kamu (memakan) yang baik-baik, dan (buruan ang ditangkap oleh) binatang-binatang pemburu yang telah kamu ajar (untuk berburu) mengikut cara pelatih-pelatih binatang pemburu. Kamu mengajar serta melatihnya (adab peraturan berburu) sebagaimana yang telah diajarkan Allah kepada kamu, oleh itu makanlah dari apa yang mereka (binatang-binatang buruan) itu tangkap untuk kamu dan sebutlah nama Allah atasnya (ketika kamu melepaskannya berburu); dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha cepat hitungan hisabNya” (Surah al-Maidah, ayat 4)
    Binatang pemburu yang biasa digunakan ialah anjing. Kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ibn Kathir dan selainnya akan menyebut anjing sebagai pemburu utama. Juga perkataan mukallibin dalam ayat ini boleh bermaksud tuan-tuan empunya anjing seperti yang disenarai oleh al-Imam Ibn al-Jauzi ( meninggal 597H) dalam Zad al-Masir.
    Ertinya, muslim memiliki anjing buruan. Demikian dia boleh memiliki anjing yang menemaninya berjalan atau menjaga keselamatan rumah seperti anjing Ashab al-Kahfi yang disebutkan tadi.
    Bolehkah Muslim Menyentuh Anjing?
    Ada pula yang cuba menyatakan haram memegang anjing kerana najis. Kalau kerana ia najis haram dipegang, maka haram juga seseorang menyentuh najis dirinya, ataupun anaknya ataupun sesiapa di bawah jagaannya ketika membersihkannya. Haramlah juga mereka yang berkerja yang membabitkan bahan-bahan bernajis seperti mencuci tandas ataupun darah ataupun nanah dan lain-lain. Begitu juga dengan doctor veterinar. Maka itu kesimpulan hukum yang cetek. Maka TIDAK HARAM menyentuh anjing.
    Najis boleh disentuh tetapi hendaklah dibasuh apabila kita hendak beribadat ataupun berurusan dengan masyarakat. Menyentuh anjing yang kering sepakat ulama tidak najis. Menyentuh anjing basah khilaf pendapat dalam kalangan sarjana. Mazhab Syafie agak tegas dalam hal ini. Namun, pendapat-pendapat mazhab lain lebih luas dan mudah. Sebahagian fuqaha hanya membataskan najis anjing itu hanya jilatannya kerana itu sahaja yang disebut dalam hadis : “Apabila anjing menjilat bekas seseorang kamu, maka basuhlah sebanyak tujuh kali. Salah satunya dengan tanah” (Riwayat al-Bukhari).
    Mazhab Malik bin Anas pula paling longgar dan luas berhubung dengan anjing.
    Memelihara Anjing Dalam Rumah?
    Adapun memelihara anjing dalam rumah tanpa sebab adalah tidak digalakkan oleh Islam. Nabi s.a.w bersabda: “Sesiapa yang memelihara anjing kecuali anjing buruan ataupun ternakan (menjaga ternakan) maka berkurangan pahalanya setiap hari sebesar qirat (Bukit Uhud)” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
    Berdasarkan hadis ini, maka sekurang-kurangnya memelihara anjing tanpa sebab yang disebutkan berada pada hukum makruh. Ada ulama yang mengharamkan. Namun hadis di atas tidak menyebut dosa, tetapi pengurang pahala sahaja. Maka, hukum makruh dipilih oleh sebahagian fuqaha. Hikmahnya, mungkin atas beberapa sebab yang berkaitan kerohanian dan kemasyarakat.
    Islam menyuruh kita mengalukan tetamu. Bukan semua orang suka dengan anjing. Baunya dan juga salakannya boleh menakutkan sesetengah orang. Sesiapa yang pernah pergi ke rumah pemelihara anjing, atau menaiki kenderaan yang ada anjing dia akan tahu baunya yang bukan semua orang dapat bertahan. Salakan anjing dan bulu-bulu di sana-sini bagaikan tidak mengalu-alukan tetamu. Sedangkan Islam agama kemasyarakatan dan hubungan baik antara jiran, saudara-mara dan sahabat handai.
    Dari segi keselamatan dan kesihatan juga mempunyai kemerbahayaannya. Gigitan anjing, najis serta jilatannya merbahaya. Banyak research yang telah dibuat tentang hal ini. Apabila Islam cuba mengelakkan bahaya anjing yang dipelihara dalam rumah dengan melarang penganutnya berbuat demikian, bukan itu bererti penindasan terhadap anjing. Betapa banyak binatang yang manusia elakkan dari menghampirinya kerana kemerbahayaannya. Itu semua bukan bererti penindasan atau kekejaman!
    Dalam hadis tadi, Nabi s.a.w: “Apabila anjing menjilat bekas seseorang kamu, maka basuhlah sebanyak tujuh kali. Salah satunya dengan tanah” (Riwayat al-Bukhari).
    Untuk mengelakkan jilatan anjing yang sentiasa menjelir lidah, yang dianggap najis dari segi agama dan juga bahaya dari segi scientific maka Islam melarang untuk kita memelihara anjing di dalam rumah tanpa alasan yang diizinkan.
    Maka ini ringkasan yang sempat saya coretkan petang ini berhubung dengan sisi pandangan nas-nas Islam berkaitan dengan anjing.


    Wednesday, October 15, 2014

    Ibnu Khaldun : Tokoh Sejarawan Ulung

    TOKOH 2 : IBNU KHALDUN ; TOKOH SEJARAWAN ULUNG

    SIFAT PERIBADI

    SIFAT

    KETERANGAN / BUKTI

    1.Tekun berusaha

    menuntut ilmu

     Rajin menuntut pelbagai bidang ilmu daripada ulamak terkenal.

    2.Berjiwa pemimpin

     Sentiasa mengemukakan idea yg baik untuk memajukan rakyat & negara.

    3.Kreatif

     Mampu menghasilkan pelbagai buku ilmiah untuk rujukan para ilmuan.

    4.Bijak

     Pelopor kepada pemikiran moden dalam pelbagai bidang

     Menyediakan garis panduan dlm membuat analisis ttg sejarah.

    PENDIDIKAN TOKOH

    PERKARA

    KETERANGAN

    Sejarah pendidikan

     Mendapat pendidikan awal drpd bapanya Abdul Rahman b Muhammad (mempelajari asas agama & bahasa Arab)

     Meneruskan pengajian dlm bidang ilmu mantik, falsafah, sains & teknologi drpd Muhammad b Ibrahim Al-Abili.

     Mendapat ilmu drpd beberapa orang guru yg terkenal.

    Bidang Ilmu yang dipelajari

     ilmu mantik, falsafah, sains & teknologi

    Nama guru beliau

     Ahmad b Al-Qassar

     Lisanuddin b Al-Khatib

     Universiti Ibnu Khaldun ditubuhkan di Jakarta bagi mengenang jasa beliau

    BIODATA

    Nama sebenar :

    Abdul Rahman B Muhammad B Muhammad

    Gelaran : Ibnu Khaldun

    Tarikh lahir : 732H (1332M)

    Tempat lahir : Tunisia

    Keturunan : Arab Yaman

    Jawatan :1. Pegawai Jabatan Setiausaha Negara

    :2. Anggota Majlis Ilmiah

    :3. Perdana Menteri

    :4. Ketua Hakim Negara di Mesir

    Tarikh &Tempat meninggal dunia :

    808H (1406M) Kaherah

    HASIL KARYA IBNU KHALDUN :

    1. Al-Muqaddimah

    2. Takrif Ibnu Khaldun

    KEISTIMEWAAN HASIL KARYANYA :

    1. Karyanya adalah hasil kombinasi pengalaman, ilmu pengetahuan & kreativiti beliau.

    2. Hasil karya beliau adalah hasil drpd pemurnian ilmu sejarah dgn menjadikan rasional sebagai kayu ukur fakta sejarah.

    SUMBANGAN :

    1. Berjaya menganalisis sejarah dari aspek kemasyarakatan, ekonomi, politik & pendidikan dalam karyanya.

    2. Berpendapat bahawa sesebuah tamadun tertegak hasil gabungan aspek rohani & jasmani.

    3. Beliau dianggap sebagai pelopor pemikiran moden dlm bidang sejarah, politik, sosiologi & pendidikan.

    4. Hasil karyanya dijadikan bahan rujukan di institusi pengajian tinggi.

    KEISTIMEWAAN :

     Tokoh sejarah yang unggul krn mampu mengkaji sejarah sesebuah negara berdasarkan semua aspek spt psikologi, ekonomi, sosiologi, alam sekitar serta geografi negara tersebut.